Lampung!


wpid-photogrid_1420857292600.jpg wpid-photogrid_1420960662349.jpg wpid-photogrid_1421496217222.jpg

Family is not an important thing. It’s everything πŸ™‚

Ceritanya, kamis siang minggu lalu lagi telfonan sama mama cuma buat ngasih tau kalo GDS ku hari itu 142, eh mama baru bilang kalo besok mau ke lampung. Gak pake pikir panjang lagi, apa aku ke lampung juga aja ya, hmm langsung aja gitu beli tiket buat berangkat malemnya. Rasanya minggu lalu itu stress dan capek banget, pengen kabur sebentar dan ketemu keluarga. Eh pas sore sampe kosan buat buru-buru packing, baru sadar, “ini seriusan nih mau ke lampung? sendirian? malem-malem gini? bukannya lagi sakit? bukannya seminggu ini kurang tidur banget? bukannya tugas numpuk banget mesti dikerjain? bukannya harusnya rencana weekend ini tidur seharian istirahat di kamar?”Β Lima menit kemudian, aku nangis wkwkwk. Tapi alhamdulillah, berkat bismillah danΒ saking kangennya,Β akhirnya semua baik-baik aja. At the end, aku seneeeenngg banget! Rasanya kayak semangat direchargeΒ lagi! Yang tadinya capek banget, sekarang udah gak capek lagi. Yang tadinya sakit, rasanya langsung sembuh.Β Well,Β ending dari semua ini, janji sama diri sendiri buat gak akan keluar kota selama empat bulan ke depan.

 

 

Cerita di bawah langit Lombok


wpid-img_3248.jpg

Satu bulan yang lalu, selama satu minggu aku menikmati berada di bawah langit Lombok. Bukan untuk jalan-jalan, kegiatan ini dinamakan Kerja Sosial FKG UI, diadakan 2 tahun sekali. Dua tahun yang lalu aku juga ikut acara ini, yang dulu diadakan di Palu, Sulawesi. Aku jadi ingat, waktu pertama kali menginjakkan kaki di Palu, tepat di Bandara, aku kaget, karena bandara disana sangat kecil, bahkan sepertinya jauh lebih bagus stasiun cikini di jakarta, tapi itulah justru yang menakjubkan.

Aku pikir Lombok akan sama dengan Bali, ternyata berbeda, bahkan 100% sangat berbeda menurutku. Masing-masing punya pesona masing-masing. Tapi yang pasti, disini aku tidak akan berbicara tentang keindahan alam Lombok, karna tujuanku kesana adalah berbagi dengan masyarakat disana.

Ada empat desa yang menjadi tujuan kami dan desa yang menjadi tujuanku adalah Desa Senyiur, Lombok Timur. Ada yang unik dari masyarakat Lombok, tidak pernah aku duga kalau keislaman di Lombok ternyata begitu kuat. Aku jadi ingat waktu SMP, aku pernah ketemu dengan seorang bapak dari NTB waktu ikut kompetisi nasional, beliau bilang, “Jangan salah, justru NTB itu islamnya mayoritas dan sangat kuat di masyarakat.” Ternyata beliau benar, bahkan Lombok ternyata punya julukan “Pulau 1000 masjid”, di setiap sudut pasti ada masjid.

Karena kita datang kesana sebagai tenaga kesehatan, maka pasti kita harus tahu kondisi kesehatan masyarakat disana.Β  Di desa Senyiur, menurut data dari poskesdes dan Bapak Kades, 2 penyakit yang paling tinggi terjadi di masyarakat adalah TBC dan HIV. Aku jadi penasaran, kok bisa dua penyakit tersebut punya prevalensi paling tinggi disana. Barulah aku paham alasannya kenapa. Disana, baru hari pertama aja, aku udah langsung kena batuk kering, gak berhenti sampe gak bisa tidur hiks, itu baru sehari gimana kalo tinggal disana bertahun-tahun. Debunya banyak, selain itu masyarakat disana cenderung hidup berdampingan dengan hewan ternak mereka. Untuk penyakit yang satu lagi, aku gak tau pasti alasannya kenapa, cuma perkiraanku aja. Ternyata disana tingkat poligami dan perceraian itu tinggi. Selain itu, masyarakat disini kalau mau menikah harus dibawa ‘kawin lari’ dulu. Ya, wallahualam. Disana juga banyak banget yang bekerja sebagai TKI.

Kebetulan aku dapet tugas di hari pertama dan ketiga di bagian penyuluhan. Yang paling sulit dari penyuluhan di daerah yang jauh dari jakarta adalah komunikasi. Kenapa? karena rata-rata mereka tidak bisa berbahasa Indonesia. Ohya, disana kan aku tinggal di rumah warga, bahkan sulit sekali berkomunikasi dengan yang punya rumah, bahkan tiap kita ngomong hanya dibalas senyum atau ‘ya’, hiks. (tapi terima kasih banyak ya pak bu sudah boleh numpang tidur di rumah bapak ibu). Tapi ternyata tidak sesulit itu kok, aku kaget waktu lihat warga begitu antusias dengan materi yang kita share, aku juga kaget waktu lihat anak-anak kecil disana ternyata sangat pintar dan aktif. Terlepas dari semua itu, aku merasa bahwa menyuluh masyarakat disini bahkan jauh lebih mudah daripada menyuluh warga-warga di sekitar Jabodetabek hehe.

Kalo ngomongi soal kesehatan gigi dan mulut, beuh gak usah ditanya, sedih banget aku lihatnya. Kalau udah lihat kayak gini, sering kesel sama pemerintah yang suka pake anggaran negara untuk hal-hal gak penting, kesel juga sama mahasiswa-mahasiswa yang sukanya ngabisin uang negara dengan kegiatan-kegiatan yang tidak memberi manfaat signifikan. Kesel banget. Keselnya kemana-mana, sampe kesel sama diri sendiri juga kenapa harus jadi dokter gigi hahaha, gak deh bercanda. Ya, insya Allah, masih banyak waktu untuk memperbaiki ini semua. Lagi-lagi, ini tugas kita bersama. Cepat membaik, kesehatan ibu pertiwi.

Ohya, satu lagi, pengalaman yang gak akan aku lupakan, disana untuk pertama kalinya aku ketemu pasien anak autis usia sekitar 10 tahun, mau cabut gigi. Masalahnya, dia gak bisa ngomong sama sekali, mulutnya terbuka (gak bisa nutup mulut) dengan saliva yang mengalir jatuh gak berhenti. At the end, karena aku gak bisa menghandle anak ini dengan baik, yang nyabut giginya bukan aku, tapi drg. Ite, supervisor kami. Makasih banyak dok.

Allah.. terima kasih atas pengalaman berharga yang telah Engkau berikan. Semoga kita semua menjadi dokter gigi yang senantiasa punya hati nurani untuk berbagi dan tidak mementingkan diri sendiri. Keep smile! πŸ™‚