Rainbow Rowell : Eleanor & Park


Hmm.. Eleanor & Park adalah kisah tentang anak SMA, tapi rasanya kurang pas jadi bacaan anak SMA. Buku ini bukan untuk jadi inspirasi anak remaja dalam menjalani hari bersama cinta pertamanya, tapi lebih ke mengingatkan kita, yang sudah dewasa, bagaimana manisnya cerita cinta saat di sekolah dulu (walaupun sebenernya cerita cinta yang dipunya waktu remaja gak ada mirip-miripnya sama Eleanor & Park tapi yaudahlah ya).

Eleanor, gadis putih berambut merah, tidak kurus dan punya gaya berpakaian yang (kasarnya) ‘minta dikatain’. Tapi anehnya yang dibayanganku justru Eleanor punya penampilan yang biasa aja. Entahlah, rasanya tidak ada yang salah dengan gadis putih campuran Denmark-Skotlandia, berambut merah keriting, memakai kemeja kotak-kotak kebesaran dengan syal-syal di pergelangan tangan. Iya kan?

Lalu, Park, lelaki campuran Amerika-Asia, yang tidak bisa kubayangkan sama sekali bagaimana rupanya. Aku akan jatuh cinta dengan Park kalau saja aku masih berusia 16 tahun. Lelaki ini….. 100% book-boyfriend-material. Park suka baca buku, komik sih lebih tepatnya. Dia suka mendengarkan musik-musik berkualitas. Park adalah laki-laki yang akan meminjamkanmu buku-bukunya hanya untuk bisa ngobrol denganmu di kemudian hari. Atau dia akan merekam lagu-lagu favoritnya ke dalam kaset dan meminjamkannya padamu untuk kamu dengar sebagai pengantar tidur. Park seperti itu, yang jelas akan melelehkan anak remaja manapun. Tapi Park, hanya anak lelaki biasa, bukan anak lelaki populer kaya mengagumkan (dan juga membosankan) yang biasa ada di buku atau drama remaja pada umumnya. Itulah kenapa Park menarik.Read More »

Advertisements

Seni mencintai


Tanah selalu basah tiap malam, tak pernah ku kira musim hujan masih berumur hingga menjelang akhir April. Malam ini aku akan bicara tentang satu hal yang didambakan setiap yang bernyawa, yaitu cinta.

Kok gue jadi geli sendiri ya hahaha. By the way, pernah baca buku The art of Loving karya Erich Fromm? Lebih seru kalo bahas cinta not only based on experience, but also based on books ya. Basically, kalau kalian perhatikan, seluruh novel di dunia ini isinya cuma satu, yaitu tentang cinta. Kenapa? Karena cinta gak melulu tentang lelaki dan perempuan, tetapi ada banyak cinta-cinta lainnya, termasuk cinta ke Tuhan, keluarga, pekerjaan, hobi, negara bahkan cinta pada diri sendiri.Read More »

Rainbow Rowell : Attachment


71ZlxOeCx4L

Aku jatuh cinta pada Lincoln. Tidak, itu terlalu berlebihan. Aku hanya menyukainya. Aku hanya menyukai karakter Lincoln. Tidak, sebenarnya tidak seperti itu. Aku hanya menyukai bagaimana Lincoln bisa jatuh cinta pada Beth karena apa yang ditulisnya. Iya, Beth adalah penulis, lebih tepatnya kritikus film. Lincoln tidak jatuh cinta pada artikel Beth tentang film. Lincoln hanya membaca email-email Beth kepada Sahabatnya, Jennifer. Tapi tetap saja, Lincoln jatuh cinta pada Beth bahkan sebelum mereka pernah mengobrol satu sama lain. Aku mulai iri. Sebenarnya itu hanya obsesiku untuk di-jatuhcinta-i karena tulisanku –Aku tidak sedang bercanda-. Aku bahkan merancang jalan cerita Ambo jatuh cinta pada tulisan-tulisan Lana yang akhirnya membuat Ambo jatuh cinta seutuhnya pada Lana. Aku mulai mengutuki Rainbow Rowell karena mendahului ideku. Siapa aku.

Aku tidak tahu siapa Rainbow Rowell, sebelum akhirnya aku mengetik namanya di elgoog.im dan kemudian aku jadi pusing –kali ini aku sedang bercanda-. Ini adalah buku Rainbow pertama yang aku baca. Saat tiga minggu lalu aku ke toko buku, I couldn’t find the books I wanted. Aku tahu aku telah menghentikan obsesiku membaca buku-buku Paulo Coelho karena satu dan lain hal. Aku hampir berniat mengambil salah satu buku Pak Pram kalau saja aku tidak ingat aku sedang butuh hiburan di sabtu minggu, bukan untuk berpikir keras. Aku butuh bacaan simpel dan menghibur. Bukan complicated seperti tulisan Jodi Picoult, apalagi Haruki Murakami. Aku mencari buku Mitch Albomm, tapi tidak ketemu. Then I decided to get Attachment, Rainbow Rowell’s first novel, since I know how well known she is as a writer.Read More »

A very yuppy wedding


wpid-20150102_205301Andrea dan Adjie, pasangan yang masing-masing udah berusia 29 tahun tapi menurutku belum cukup dewasa untuk bersikap layaknya orang dewasa hehe. Novel ini bercerita tentang kisah cinta pasangan satu kantor yang dimana di kantornya ada aturan yang gak ngebolehin adanya pernikahan sesama pegawai. Hm…. Baru pertama kali ini nyobain baca bukunya Ika Natassa. Ceritanya ringan dan bikin betah berjam-jam baca dari awal sampe selesai. Tapi sebenernya agak terganggu dengan ratusan merk mahal yang ditulis di novel ini. Emang sih mungkin bener-bener mau bilang kalau tokoh di novel itu adalah level-level sosialita ala orang-orang kantoran Sudirman, but I don’t think it’s a good way 🙂

 

Paulo Coelho


Kalau suka nulis pasti suka baca. Makin banyak yang dibaca makin banyak pula yang ingin ditulis. Ada salah satu penulis asal Rio de Janeiro yang sangat aku suka, Paulo Coelho. Beliau adalah salah satu penulis yang kalau aku lagi di toko buku, apapun judulnya tak peduli isinya, asal penulisnya Paulo Coelho pasti aku beli. Selain Paulo Coelho, penulis lain yang aku beli bukunya ‘tanpa mikir’ adalah Mitch Albom dan Haruki Murakami, aku akan cerita tentang keduanya di edisi happiness selanjutnya ya.

Paulo Coelho is a novelist who writes in a universal language. His books have had a life-enhancing effect on millions of people. Apa yang membuatkan aku tertarik dengan buku Paulo Coelho? Karena beliau mengajarkanku tentang kehidupan dari sisi yang tidak bisa aku jangkau. Jenis buku persimpangan antara fiksi dan non-fiksi ini yang sangat aku suka. Di satu sisi aku bisa menikmati alur cerita dengan permainan imaginasi, di sisi lain otak kiri ku akan belajar mengenai ilmu-ilmu pasti.

Paulo Coelho lahir di tahun 1947, beda 46 tahun dari usiaku hehe. Paulo kecil memang punya cita-cita ingin menjadi seorang penulis, sayang orang tuanya tidak setuju sampai-sampai Paulo dikira menderita ‘mental illness’ karena keinginan kuatnya untuk menulis. Paulo menjalani hidup yang tidak mudah sampai akhirnya di tahun 1987 ia menulis buku pertamanya The Pilgrimage. Buku ini menceritakan tentang pengalamannya mengenai hal-hal luar biasa yang terjadi pada orang yang biasa saja. Setahun kemudian, ia menulis buku yang berjudul The Alchemist, buku yang sangat terkenal dengan quote-nya “When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it”. Quote lainnya yang aku suka dari buku The Alchemist adalah “The secret of life, though, is to fall seven times and to get up eight times”. Setelah itu ia menulis Brida, The Valkyries, By the River Piedra I Sat Down and Wept, The Fifth Mountain, Veronika Decides to Die, The Devil and Miss Prym, Manual of the Warrior of Light, Aleph, Eleven Minutes, The Zahir, Like The Flowing River, The Witch of Portobello dan The Winner Stands Alone. Buku terbarunya berjudul Manuscript found in Accra.

Kalau kalian baca Brida, kalian akan belajar bagaimana cara menemukan soul mate kita. So, in Brida, there are two ways to recognize your soul mate. Through Magic, entering a state of trance in which you can see a bright spot over the shoulder of your soul mate, or by taking risks, by making mistakes, by being with the wrong people until you find your soul mate. So, would you try to find your soul mate through magic or by taking risks, making mistakes?

In my humble opinion, the best way to find our soulmate is through magic. How can we use the magic? Actually, it is the power of Du’a (prayer). Thanks, Paulo Coelho.

Two Kisses for Maddy


6979654133_623cb4eb0f_z

A memoir of Loss and Love

Ada satu hal mengapa aku sangat menyukai fiksi-fiksi yang diangkat dari kisah nyata, karena ceritanya tak punya akhir dan imajinasiku bisa langsung bersentuhan dengan kenyataan. Kisah nyata selalu sederhana, tapi emosi yang bukan imajiner membuatnya terasa ‘lebih’ istimewa.

Novel ini bercerita tentang Matt Logelin (yang menurutku akan sangat tampan jika tanpa whiskers/sideboards) dan kekasihnya, Liz. Mereka tinggal di Los Angeles dan menjalin hubungan sejak Senior High School. Kisah mereka begitu sempurna karena keduanya punya ketulusan cinta yang langka dimiliki banyak orang, menurutku. Tak ada yang kurang dari Liz, begitu menurut Matt, dan tak ada yang kurang dari Matt, begitu menurut Liz. Mereka merasa memiliki segalanya : pernikahan yang sempurna, sebuah rumah baru yang indah dan seorang bayi perempuan yang akan segera lahir. Tapi kehamilan Liz tidak senormal perempuan pada umumnya, ia harus menjalani perawatan di rumah sakit selama beberapa bulan, agar anaknya tetap bertahan sehat. Tujuh minggu dari waktu seharusnya melahirkan, jantung janin yang ada di dalam rahim Liz melemah, tidak ada pilihan lain, janin tersebut harus segera dilahirkan. Setidaknya udara dunia yang dilengkapi dengan inkubator dan alat canggih lainnya lebih aman daripada kondisi di dalam rahim Liz. Meski terlalu cepat tujuh minggu, kehadiran seorang bayi mungil perempuan begitu membahagiakan, bayi cantik itu mereka namakan, Madelaine.

Tapi, hanya 27 jam setelah melahirkan, Liz menderita emboli paru dan langsung meninggal dunia, tanpa pernah sempat memeluk sang putri yang kedatangannya begitu dia nanti-nantikan. Matt begitu terpukul, dua hari berturut-turut dia mendapat kebahagiaan dan kesedihan yang teramat dalam. Tak pernah ia membayangkan akan menjadi orang tua tunggal. Kisahnya bersama Liz dirajut dengan berjuta mimpi dan rencana untuk merawat anak mereka bersama. Tapi kini? Ia sendiri.

Lalu, bagaimana Matt bisa survive menjalani hidup berdua saja bersama putrinya, Maddy? You have to find it in his book. I recommend you to read this book, seriously. 

Actually, it was much more about Matt than about Maddy.  This book is very sad, but sometimes it’s also cute. For me, Matt’s story is amazing. I don’t why but I’m curious why I feel like this book didn’t emotionally engage me. I don’t why. When I’d finally finish this book, there were lots of moments where I flat out sad, and others where I laughed, but I didn’t cry. Perhaps it’s because of his writing style. Beside that, aku sepakat kalau karya ini luar biasa, begitu indah karena inilah cara seseorang memberikan hadiah terbaik untuk orang yang sangat ia cintai. Ia menulis kisah ini, agar kelak anaknya mengenal ibunya dan tau bahwa ibunya begitu bahagia memilikinya.

If you have already read this book, you can visit his blog to find more what happen after you finished your imagination about the story.

20130126-175010

Matt and Maddy

8564507903_11b2ed369f_c

She is beautiful, Madelaine

Kalimat yang paling membuatku tersentuh dalam cerita ini adalah, “Together during the worst of times is better than being alone at the best of times.” Ya, menjalani masa sulit bersama-sama lebih baik daripada menjalani masa-masa terbaik sendirian. Kalian tahu? Menurutku, masa paling menyedihkan bagi seseorang bukan saat dia tak tahu harus mencurahkan segala kesedihanya dan merasa tak punya tempat untuk bersandar, tapi saat paling menyedihkan itu ada saat orang tak punya lagi tempat untuk sekedar berbagi kebahagian.

 

Jika waktu tak berbatas?


thetimekeeper_3d

Mitch Albom – The Time Keeper

In this fable, the first man on earth to count the hours becomes Father Time. The inventor of the world’s first clock is punished for trying to measure God’s greatest gift. He is banished to a cave for centuries and forced to listen to the voices of all who come after him seeking more days, more years. Eventually, with his soul nearly broken, Father Time is granted his freedom, along with a magical hourglass and a mission: a chance to redeem himself by teaching two earthly people the true meaning of time. He returns to our world–now dominated by the hour-counting he so innocently began–and commences a journey with two unlikely partners: one a teenage girl who is about to give up on life, the other a wealthy old businessman who wants to live forever. To save himself, he must save them both. And stop the world to do so.

Deta Apritantia – Penggila waktu

Einstein pernah mendalilkan bahwa jika bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, waktu akan berjalan lebih lambat, setara dengan dunia yang kita tinggalkan.

Renungan hari ini berpacu pada detak jarum jam yang tak urung usai kuperhatikan. Selintas fantasi pikiranku melayang pada hasrat manusia akan obsesi-obsesi gila mereka akan waktu. Ya, lihatlah dengan seksama, puncak tertinggi keserakahan manusia ada pada waktu yang tak pernah memuaskan. Muak rasanya, maka kemudian aku terobsesi untuk bermain-main dengan khayalan-khayalan semu.

Bisakah kau bayangkan mempunyai waktu tak terbatas? Oh, aku tak akan pernah takut. Tak akan pernah takut dengan kesedihan, tak akan pernah takut dengan kematian. Tak akan ada yang lebih menyenangkan selain harta waktu yang tak berujung. Aku akan punya berjuta-juta kesempatan, karena waktuku tak akan habis dimakan masa.

Ah, senangnya jika aku mempunyai waktu tak terbatas untuk belajar. Bertumpuk—tumpuk buku akan kubaca tanpa henti, berjuta-juta ilmu akan kupelajari sampai titik akhir jenuh sekalipun. Aku akan menghentikan apapun yang bergerak, memperhatikannya selama berjam-jam, berhari-hari sampai aku paham. Aku akan menghentikan waktu barang sebentar, berjalan sesuka hati, menyentuh setiap benda yang aku suka, tanpa ada yang tahu, tanpa ada yang sadar bahwa waktu telah kuhentikan di bawah kendaliku.

Tapi kemudian aku sadar..

Jika aku diberi waktu tak terbatas, maka tidak ada lagi yang istimewa. Tanpa kehilangan dan pengorbanan, aku tak bisa menghargai apa yang aku punya. Tidak pernah ada kata terlambat atau terlalu cepat. Semua terjadi pada waktu yang telah ditentukan. Begitu kita mulai menghitung waktu, kita kehilangan kemampuan untuk merasa puas.

Jelas, aku tak butuh keabadian. Aku tak butuh waktu lebih banyak, atau sedikit.

Ada sebabnya Tuhan membatasi hari-hari kita, agar setiap hari menjadi berharga..