Manado!


Hello, I’m back! Setelah 16 hari melalang buana di Jakarta dan Manado, finally bisa duduk depan laptop di kamar sendiri. Gue berangkat ke Jakarta hari Kamis, 21 September. Sebenernya tujuan utama gue mau ke Manado tapi ya karena flight ke Manado super pagi, mau gak mau stay di Jakarta dulu, terus karena mau stay di Jakarta, jadi sekalian aja berangkat hari kamis biar jumatnya bisa ke kampus dulu buat legalisir ijazah. Ribet ya, yaudahlah ya. Gue di Jakarta berasa kayak kerja rodi, capeeek banget. Hari jumat gue ke kampus, terus mesti banget ke grapari telkomsel dulu karena satu dan lain hal, terus siangnya gue ke Innisfree (yang udah lama pengen banget kesana karena sekarang udah gak bisa impor skincare dari Althea *cry*). Sabtunya, gue ke kliniknya Tiara, yang gue pikir ada di depok, ternyata lokasinya ada di Sawangan yang jauhnya jauh banget, terus habis dari Sawangan gue mesti ketemu Laila ngomongin kerjaan di Bekasi, yang malah makin jauh haha. Gue berasa lintas negara saking lelahnya.Read More »

Advertisements

Jalan Setapak


(My brush was not working properly on the detail)

Delapan kali lima meter, luas ruangan tempat aku menyandarkan punggung di sisi tempat tidur. Cukup luas, tak sempit seperti pikiran tentang satu hal tak berganti. Ada lampu tergantung yang begitu terang, tapi khayalan bebas terbang ke jalan setapak di tengah hutan gelap. Aku duduk di lantai beralas karpet, menghadap layar sambil berusaha fokus merangkai kalimat, meski penuh distraksi kanan kiri. Ohya, di ujung jalan setapak, ku lihat seberkas cahaya matahari terbenam. Ya sunset selalu mengagumkan, tapi gelap malam setelahnya yang tidak kusuka. Sunrise juga indah, tapi bekunya udara subuh terlalu menusuk kulit, dinginnya yang tidak kusuka. Karakter jiwa ini memang rumit, maaf.

Ah, cahaya. Selaras dengan hati yang hanya menyukai pagi hingga sore, tidak dengan malam. Malam penuh dengan rasa sepi, sialnya aku adalah manusia susah tidur. Tak heran aku bersemangat melelahkan diri seharian, demi tidak terjaga tengah malam. Tapi jika lelah, aku mengutuki diri sendiri karena kusebut penyiksaan badaniyah. Ah, sudah kubilang aku rumit, maaf.Read More »

Carpe Diem


Seize the day.

Intinya sih, to enjoy the moment, to live the very moment I am living right now. Carpe diem rasa-rasanya pas banget jadi nasihat buat aku yang udah menginjak usia 24 tahun ini. Kayak pengen bilang ke diri sendiri, “yaudah nikmatin aja dulu, maksimalin apa yang udah depan mata, maksimalin apa yang udah dipunya sekarang”.

Sebenernya aku ngerasa sekarang jauh lebih baik dari aku waktu nulis “a thought of my current life” awal april kemarin. Aku jauh lebih tenang, lebih bersemangat, lebih termotivasi dan lebih percaya diri. Aku udah mulai nulis mimpi-mimpi baru, udah bisa ngerancang plan apa aja yang pengen aku lakuin ke depan, yah walaupun masih belum 100% yakin dengan planning-planning itu, tapi setidaknya udah bisa move on dari old dreams itu kemajuan banget.Read More »

Replay (Juli) 2016


wp-1470229817419.jpeg

Bagian 1

Kutulis di atas awan Selat Sunda, menuju ibukota

Ada banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan sebagai seorang hamba Tuhan. Seperti sekarang misalnya, pesawat yang aku tumpangi sudah 30 menit menunggu untuk mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta. Aku tidak tahu pasti apakah selama 30 menit itu, pesawat ini hanya diam di atas langit atau justru bergerak tanpa arah. Aku takut memandang keluar jendela yang begitu penuh dengan awan, membuat jalan pesawat menjadi tidak mulus lagi. Sebenarnya aku tidak berpikir macam-macam, tapi tangisan bayi di belakang kursi ku membuat rasa cemas jadi hinggap di diri. Untunglah, lima belas menit kemudian pesawat ini berhasil mendarat. Perjalanan Palembang-Jakarta yang biasanya hanya ditempuh dalam waktu 1 jam, kini berubah menjadi hampir 2 jam.

Selasa, 12 Juli 2016

Bagian 2

Kutulis di atas tempat tidur, dengan suhu tubuh masih 38,5° C

Ada banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan sebagai seorang hamba Tuhan. Seperti sekarang misalnya, baru lima hari di Jakarta aku sudah jatuh sakit. Aku lebih ingin menyalahkan polusi bakteri dan virus di Jakarta yang tumpah ruah dibanding harus mengutuki sistem imun tubuhku. Walaupun pada kenyataannya, pertahanan tubuh ku memang payah. Jadilah, seharian hanya berbaring di atas tempat tidur membuatku berpikir terlalu runyam. Seperti ini misalnya,

“Mengapa menjadi dewasa itu menakutkan?”

Read More »

(Replay 2010)


Ku tulis di hari Sabtu, 25 Juni 2016, pukul 17.00 WIB

Agustus 2010, aku, bersorak riang karena tak lagi memakai seragam SMA. Saat ku injakkan kaki di tanah Jawa enam tahun lalu, tak ada bedanya dengan rasa berada di atas tanah Sumatera. Jakarta sama panasnya dengan Palembang, bedanya udara Palembang masih jauh lebih bersih. Pun Depok, kota yang ramai namun tenang, membuatku tak merasa takut sama sekali berada di tempat asing. Saat itu aku ingat diantar oleh keluargaku menuju kosan di daerah Pondok Cina, Depok. Terlihat jelas rona kekhawatiran orang tuaku meninggalkanku sendirian. Terang saja, sedetik setelah keluargaku pulang, rasa sedih itu memuncak. Maklum, anaknya gampang kesepian, masih 17 tahun soalnya.

Sebenarnya OSPEK di UI itu “baik-baik saja”. Normal, sebagaimana harusnya OSPEK dilakukan. Aku menyenangi kegiatan yang memang banyak manfaatnya terutama untuk bekal sebagai mahasiswa baru. Beda cerita di OSPEK Fakultas. Dua hari sebelum hari H, kita diminta untuk berkumpul di samping balairung UI. Briefing, katanya. Disitulah mulai terasa kultur budaya ospek kampus versi Indonesia. Suasananya sunyi, cukup dibuat menegangkan, tak menyenangkan sama sekali. Aku tidak ingat detail yang terjadi saat itu seperti apa karena terjadi terlalu cepat. Yang ku ingat kita dikasih tugas yang begitu banyak dan harus selesai dalam waktu 2 hari. Esensinya, kita harus mampu bekerja dalam kondisi ‘mepet’ sekalipun, bahkan tugas sebanyak itu sampai membuatku tidak tidur sama sekali di hari pertama OSPEK fakultas. Padahal kenyataannya, 6 tahun aku kuliah tidak pernah tidak tidur karena belajar atau mengerjakan tugas hehe.

Read More »