Belajar tentang belajar


wp-1470229822281.jpeg

Entah karena pengaruh umur, atau karena sudah terlalu muak 20 tahun belajar non-stop, atau memang ilmu dunia yang makin susah, intinya, belajar tak lagi semenyenangkan dulu. Otak rasanya tumpul, daya ingat makin lemah, daya tangkap makin berkurang. Haduh! Kalau dulu aku bisa membaca buku sampai beberapa BAB sekali duduk, sekarang susah sekali rasanya mencapai halaman terakhir tiap BAB. Tak hanya itu, butuh waktu beberapa kali membaca ulang textbook untuk bisa paham betul dengan materi yang dipelajari. Kondisi ini sebenarnya sudah mulai mengkhawatirkan, sampai akhirnya aku bercerita pada Mama dan cuma dijawab, “Nanti mama beliin minyak ikan ya”

But thanks to Pinterest, akhirnya aku coba mencari tahu bagaimana caranya supaya bisa belajar dengan baik.

I need a wide range of studying tool

Aku adalah tipe orang yang suka menghabiskan uang untuk stationery. Tak masalah, selama itu bisa membuat momen belajar menjadi menyenangkan. At least, dalam belajar, kita butuh buku tulis. Trust me, menulis di buku yang sebenernya lebih meningkatkan daya ingat daripada menulis di buku imajiner pada tablet. Buku tulis yang dipilih harus menarik atau sekalian buat custom notebook sesuai style masing-masing. Aku juga suka menggunakan kertas binder polos. Aku tidak terlalu suka menggunakan kertas yang bergaris, karena kertas polos menurutku lebih bisa membuat otak kita lebih kreatif dalam membuat catatan daripada yang bergaris. Selain itu, gunakan pulpen dengan berbagai macam warna. Beli highlighter setidaknya 3 warna yang berbeda.

Read More »

Things to start doing


IMG_20131231_205423-1

  1. Move. Don’t dwell on the past
  2. Drink a lot of water
  3. Eat fruit, vegetables and natural food
  4. Drink milk (low fat) a glass for a day
  5. Go for a walk or anything
  6. Go to bed earlier (at 10 pm)
  7. Wake up earlier (at 3 am)
  8. Listen to peaceful music
  9. Avoid processed food
  10. Stretch daily in the morning
  11. Stop thinking negative thoughts
  12. Prayer, prayer, always prayer
  13. Enjoy little things in life
  14. Don’t compare myself to others
  15. Don’t be lazy. All the effort will pay off in the end
  16. Wear clothes that make me happy
  17. Live in tidy space
  18. Read a book, everyday
  19. Write, at least once in a week
  20. Saving money everyday
  21. Help others, don’t make people sad
  22. Throw away things I don’t need
  23. Don’t put things off
  24. Focus on my IELTS preparation
  25. Make a big dream, a lot
  26. Watch movie as many as possible
  27. Don’t cry, it’s a waste
  28. Laugh, but don’t laugh alone
  29. Go outside!
  30. Smile, everyday, everytime
  31. Please, be happy deta! 🙂

 

Young On Top : Pintu Pendewasaan Diri


Ini adalah bulan-bulan menuju berakhirnya masa menjadi Young On Top Campus Ambassador Batch 3. Kalau ditanya soal apa yang didapat selama menjadi YOTCA? Maka jawabku, tak terhingga jumlahnya. YOT bukan organisasi biasa. Ini adalah surganya pembelajaran hidup dalam menempa personalitas diri. Dunianya anak-anak muda yang punya semangat penuh, untuk belajar menjadi pribadi dengan sikap dan sifat terbaik. Jangan sangka perjalanan ini mudah, ada yang bertahan, banyak  juga yang menyerah. Sering mentor YOT bilang, “Kita hanya mau membantu yang memang ingin dibantu”. Ya, aku bertahan sampai sekarang, karena aku memang mau dibantu, untuk menuju kedewasaan diri.

Cerita sedikit tentang apa yang telah aku lakukan selama menjadi YOTCA. Juni akhir adalah awal aku merasakan bahwa YOT seperti keluarga baru. Bertemu dengan puluhan teman dari latar belakang berbeda, universitas berbeda, pola pikir berbeda dan tujuan yang bisa jadi berbeda pula. Di YOT, aku pegang tanggung jawab sebagai PIC Divisi Energy yang bergerak di bidang kesehatan. Ada 3 program yang sudah kita lakukan.

Pertama, YOTWalk, Jalan sehat bareng sambil aksi pungut sampah. Kegiatan ini diadakan di bulan September 2012, di CFD Bundarahan HI-Monas-Bundaran HI. Kedua, Bulan Desember 2012 kita mengadakan GEMAS (Generasi Mata dan Mulut Sehat) di SDN 07 Johar Baru, Jakarta. Pada bulan Februari 2013 kemarin, event donor darah Love Donation berhasil kita selenggarakan di Mall Kota Kasablanka. Masih banyak event lainnya yang dilakukan oleh divisi-divisi lain selain divisi Energy.

Bekerja dengan orang-orang dari kampus yang berbeda-beda dengan jadwal yang berbeda-beda pula itu cukup sulit saat awal adaptasi. Di awal, rasanya kepala ini penuh dengan pertanyaan-pertanyaan atas sikap-sikap orang sekitar yang sulit dipahami. Cukup stress, awalnya, karena tantangan berada di organisasi ini sangat banyak. Tapi senangnya, aku gak pernah sendirian, karena mentor dan teman-teman YOT CA lain selalu mendukung. Satu hal yang aku ingat, bahwa saat kita merasa ‘uncomfort’ saat itulah kita sebenarnya sedang berada di zona ‘growing up’. Dulu, pernah aku berpikir untuk give up dan quit. Tapi kemudian aku sadar, ‘The winner never quit, and quitter never win’. Of course, I will be a winner.

Aku bisa bilang kalau setiap YOT CA punya tantangan dengan porsi yang berbeda-beda. Apa yang mereka lakukan sesuai dengan tujuan mereka masing-masing. Aku juga bisa bilang aku termasuk orang yang dianugerahi Tuhan tantangan yang cukup banyak selama menjadi YOTCA. Kenapa? karena itulah tujuanku, menantang diri sendiri untuk berada di zona yang paling tidak nyaman sekalipun.

Banyak sekali ilmu yang aku dapat disini, Dulu, saat aku diinterview oleh Kak Cica (Program Director YOT) untuk menjadi PIC Divisi Energy, waktu dia tanya apa kekuranganku, aku jawab ‘Aku orangnya mudah panik, sangat mudah panik” Tapi sekarang, kata teman-temanku di kampus, aku adalah orang paling tenang dan sangat tidak-panikan. See, I’m growing up. Aku juga belajar soal networking dan negosiasi, bertemu dengan puluhan orang-orang profesional, berbicara sebaik mungkin agar mereka mau bekerja sama dengan kita dan senangnya, punya banyak kenalan dari banyak bidang, punya networking yang sangat luas. Buat apa? tentunya buat investasi masa depan.

Sejujurnya, aku benar-benar merasa menjadi jauh-jauh-jauh lebih baik dari sebelum menjadi YOTCA dan sampai sekarang hampir selesai menjadi YOTCA. Tidak lama memang, baru delapan bulan sampai hari ini, tapi 8 bulan ini benar-benar akselerasi dalam ‘learn and share’. Belajar menemukan passion, memiliki integritas, THINK BIG, Percaya Diri, Open Minded, ON TIME, Respect, Detail Oriented, Do not Assume, Constructive Criticism, Extramile, Focus, Positive Thinking, Creativity adalah value-value YOT yang rasanya sudah menetap tinggal di pikiran dan jiwa saya. Di YOT, aku dipacu untuk terus terbiasa dengan value-value tersebut, sampai akhirnya pun aku menjadi terbiasa.

Well, di Young On Top ada yang namanya Monthly Meeting, setiap bulan kita diberikan ilmu-ilmu mengenai Personal Development. Ilmu yang kita dapet akan sia-sia dan cepat lupa kalau tidak diterapin. Tapi Alhamdulillah, event-event yang dipegang oleh divisi Energy benar-benar menjadi sarana untuk menerapkan ilmu yang didapat selama ini. Intinya, saya sangat senang dan bangga menjadi bagian dari YOT CA Batch 3.

Terima kasih Young On Top. Terima Kasih Mas Billy Boen. Terima kasih Mas Taufan Akbari. Terima kasih untuk semua mentor. Terima untuk semua teman-teman YOTCA.

Sekarang, saya siap untuk sukses di usia muda. 🙂

Respect to money


MoneyHouses

Ada satu pelajaran berharga yang saya dapatkan selama beberapa bulan ini, bahwa ternyata selama ini saya belum terlalu menghargai uang yang saya miliki. Entahlah, mungkin karena belum tahu gimana susahnya mencari uang. Tapi belakangan ini saya belajar banyak, bahwa uang pun perlu dihargai, terlepas dari nyatanya uang memang sangat berharga.

Gimana cara kita menghargai uang?

Susah-susah gampang. Simpel sebenarnya, kita cuma perlu mempunyai manajemen uang yang baik. Mengatur keuangan dengan sebaik-baik mungkin, agar pengeluaran kita tidak lebih besar daripada pemasukan yang kita miliki. Selanjutnya, kita perlu melakukan filter yang baik pula untuk barang-barang yang kita beli. Sama seperti saat kita menentukan prioritas dalam manajemen waktu, urutkan pula barang-barang yang ingin kita beli berdasarkan prioritas. Jangan sampai kita sendiri gak sadar kemana uang kita larinya. Saya sering seperti itu soalnya hehe, suka gak sadar tiba-tiba uang habis dan gak tahu perginya kemana. Saya sendiri menyimpulkan ada 4 cara yang bisa kita lakukan sebagai bentuk respect kita terhadap uang.

Hemat. Hemat itu penting, sangat penting. Saya percaya bahwa saat kita bisa mengontrol keuangan kita dengan baik, maka itu artinya kita sudah mampu mengontrol diri kita sendiri. Belanja itu memang bikin stress hilang, tapi belanja bukan satu-satunya jalan untuk menghilangkan stress dan jenuh. Banyak cara kok yang bisa dilakukan. Cara buat hemat ya kurangi porsi belanja. Ganti dengan kegiatan lain yang lebih fun dan gak boros/

Nabung. Sisihkan sebagian uang kita untuk kita ditabung ya. Ada baiknya uang yang mau ditabung sudah ditentukan jumlahnya dari awal dan langsung ditabung, bukan berapapun uang tersisa baru ditabung. Menabung di awal bulan lebih efektif daripada menabung di akhir bulan. Bisa juga pake sistem nabung di bank, yang tiap bulan uang kita di rekening akan dipotong sesuai jumlah yang ingin kita tabung. Lumayan efektif buat mengontrol diri sana sini buat gak sering-sering narik uang di atm atau pun pake debit buat belanja.

Invest. Well, kalau dari uang yang kita punya, kita bisa menghasilkan uang yang lebih banyak dan lebih banyak lagi. Why not? Banyak cara untuk kita bisa berinvestasi. Kalau sekarang sih, ini belum saya terapin hehe.

Sedekah. Percayalah, semakin banyak kita memberi, semakin banyak yang akan kita terima. Kalau sedekah jangan ragu-ragu ya. Jangan takut untuk kekurangan uang, semakin ikhlas semakin terbuka juga jalan masuk rezeki. Baiknya sih rutin setiap hari walaupun dalam jumlah yang gak banyak. Tapi sekali-kali sedekah dalam jumlah yang banyak lebih oke lagi, apalagi kalau sering. Jangan lupa bahwa setiap rezeki yang kita terima, ada hak orang lain yang dititipkan Allah kepada kita.

Will of life..


Bahagia itu memang sederhana. Tapi untuk mendapatkan kebahagiaan yang utuh dan kontinyu, menurut saya, tidak sesederhana itu. Inilah yang perlu kita capai, keseimbangan hidup. Banyak orang yang sukses, kaya, terkenal tapi tidak bisa merasa tenang dan bahagia. Kenapa? Jawabannya satu, karena hidupnya tidak seimbang. 

Begitulah yang terjadi pada saya beberapa bulan terakhir. Sebenarnya mungkin ini sudah lama terjadi, hanya saja saya baru menyadari bahwa titik permasalahan terletak pada hidup saya yang tidak seimbang. Saya mungkin bisa mencapai target pada salah satu sisi kehidupan, tapi saya gagal pada bidang yang lain. Saya sepertinya terlalu fokus pada salah satu aspek sampai-sampai mengabaikan aspek lain yang tidak kalah penting. Ketidakseimbangan inilah yang membuat saya sulit mencapai kebahagiaan yang utuh.

Disini saya ingin berbagi sedikit tentang solusi agar kita semua bisa mencapai keseimbangan hidup. Ilmu ini kita sebut sebagai “Will of life”. Ini adalah konsep awal kehidupan yang saya dapatkan dari mentor saya di Young On Top, Mas @taufanakbari.

Saya mengelompokkan pola hidup saya ke dalam 7 aspek, yaitu spiritual, career, health, wealth, family and friends, personal development dan love/relationship. Kalau dulu saya hanya membuat target hidup yang hanya terfokus pada career dan personal development, sekarang saya juga membuat target-target yang harus saya capai pada kelima aspek lainnya. Ini membuat kita mempunyai tujuan yang lengkap dan tahu langkah-langkah apa yang harus dilakukan. Jika ketujuh aspek tersebut terlah terpenuhi hak dan kewajibannya, maka seimbanglah hidup kita. Tak sulit untuk merasa bahagia secara sempurna. Kalau misalnya kita harus menghadapi masalah yang cukup berat, rasanya tak akan jadi masalah lagi jika kita punya spiritual yang baik, personal development yang bagus dan didukung dengan tubuh yang sehat. Ketujuh hal tersebut akan saling melengkapi dan menyempurnakan. Kuncinya hanya terletak pada komitmen kita untuk menjalankannya secara sungguh-sungguh. Pasti bisa! Sekarang saya masih belajar untuk membuat dan menjalankan “Will of life” saya dengan baik.

aku (takut) salah


“Take sides! Always take sides! You will sometimes be wrong – but the man who refuses to take sides must always be wrong.”

Begitulah kata Robert Anson Heinlein, seorang penulis terkemuka sekitar tahun 1940-an. Kalimat di atas selalu menggelitik hati saya saat ketakutan untuk melangkah sudah mulai memenuhi hati dan pikiran. Ya, aku memang penakut. Aku takut salah, aku takut gagal, aku takut orang memandang sebelah mata atas karyaku, aku takut aku tidak bisa bermanfaat untuk orang lain, aku takut aku tidak bisa mencapai impian, tapi aku lebih takut lagi kalau aku hanya menjadi seorang penakut sepanjang nafas hidupku.

Kita sering mendengar bahwa sebenarnya bukan kesulitan yang membuat kita menjadi takut tapi ketakutanlah yang membuat kita menjadi sulit. Banyak orang yang menginginkan kesempurnaan dalam setiap pekerjaannya, berjuang mati-matian agar tak membuat kesalahan sedikit pun. Sayangnya justru mereka terbelunggu dan melupakan esensi belajar dari setiap kesalahan yang dilakukan. Bukankah kita akan lebih cepat belajar dari kesalahan yang telah kita perbuat?

Dalam dunia pendidikan, bisa jadi mental ‘takut salah’ ini sudah mendarah daging di sanubari anak muda. Sadar atau tidak, mulai dari kecil kita cenderung dididik untuk bermental seperti ini. Entah apa yang sebenarnya kita takuti, bisa jadi takut dihukum oleh guru atau takut dimarahi oleh orang tua. Dalam konteks yang lebih lanjut, kita akhirnya merasa takut dengan hambatan-hambatan yang akan kita lalui untuk bisa mencapai sukses. Ketakutan inilah yang akhirnya membuat kita merasa nyaman berada di level hidup yang sekarang. Pada akhirnya ini yang mengantarkan kita untuk sulit berkembang. Kenapa? Karena kita terlalu takut untuk salah di masa depan.

Lalu bagaimana jika orang-orang yang bermental ‘takut salah’ ini membuat sebuah kesalahan? Lihatlah para penjahat negara yang berbondong-bondong lari ke luar negeri untuk menghindar dari ancaman hukuman. Lihatlah para penjahat negara yang tiba-tiba hilang di telan bumi saat hendak diperiksa aparat keamanan. Lagi-lagi karena ketakutanlah yang membuat mereka tidak mampu menghadapi kenyataan, termasuk mempertanggungjawabkan kesalahan yang dilakukan.

Jangan habiskan waktu kita dengan hanya berpikir atas kesalahan-kesalahan yang bisa kita perbuat di masa depan, tapi fokuslah untuk berpikir apa saja hal-hal benar dan baik yang bisa kita lakukan. Waktu kita terlalu berharga untuk hanya diisi dengan ketakutan. Jadilah seorang pemberani, karena sejatinya keberuntungan hanyalah milik orang-orang yang berani. Salah tak masalah, begitulah yang disebut proses hidup. Setiap hari kita dituntut untuk terus belajar dan belajar baik belajar dari kesalahan diri sendiri maupun dari kesalahan orang lain.

Stop being afraid of what could go wrong and think of what could go right. Jadilah seorang pembelajar kemana pun kedua kakimu kau ajak melangkah. Jangan pernah takut untuk salah karena disanalah kita mendapat pelajaran yang sesungguhnya. Tapi jangan pula sampai terjebak dalam kesalahan untuk yang kedua kalinya. Tetap teliti dan hati-hati ya.

Terima kasih.

Bisa juga dibaca di http://www.youngontop.com/notes/aku-takut-salah-s8ibeenv 🙂

Your rival is you, not others


Yes ! Sejak sepuluh tahun terakhir, kalimat “your rival is you, not others” sudah menjadi motto hidup saya. Semuanya bermula dari nasihat yang selalu diberikan oleh Ibu saya bahwa sebenarnya yang harus kita kalahkan dalam hidup ini adalah diri kita sendiri, bukan orang lain. Waktu kecil saya hanya menuruti saja apa yang diberi tahu oleh Ibu saya tersebut, sampai saya menginjak masa remaja saya mulai menyadari bahwa nasihat tersebut benar-benar berdampak luar biasa dalam hidup saya.

Kalau kita sering memperhatikan lingkungan sekitar kita, kita pasti pernah menemukan orang-orang yang selalu sibuk memperhatikan kemajuan dan perkembangan orang lain. Bahkan saking sibuknya, waktu yang mereka habiskan untuk ‘menjelajahi kehidupan’ orang lain tersebut lebih banyak daripada menyusun strategi untuk kesuksesan hidupnya. Ibaratnya, kalau dalam suatu perlombaan lari, orang-orang dengan tipe seperti itu akan sibuk memperhatikan sudah sejauh mana saingannya berlari. Dia terlalu sibuk melihat ke kanan dan ke kiri dan bahkan kehilangan fokus akan tujuannya. Sering, itulah salah satu penyebab kegagalan yang terus berulang.

Rasanya waktu kita terlalu berharga untuk hanya dihabiskan menelusuri kehidupan orang lain. Mulailah untuk mengenali diri sendiri, tak hanya kelebihan tapi juga kekurangan. Kalau kita sudah tahu apa passion dan kelebihan yang kita punya, jangan ragu untuk melangkah dan menyusun strategi untuk mengembangkan potensi yang kita miliki. Jangan juga menutup mata akan kekurangan yang ada dalam diri kita, terus galih apa yang belum kita punya dan apa yang menjadi hambatan dan kesulitan kita. Dengan mengetahui kekurangan dan kelemahan kita justru membantu kita untuk mendapatkan solusi guna mengatasi kedua hal tersebut.

Kalau bisa dibilang sepertinya mengalahkan diri sendiri itu lebih sulit daripada mengalahkan orang lain, karena itulah awal dari semua rangkain proses hidup. Mungkin kita tahu bahwa rasa malas adalah godaan yang paling besar dalam hidup ini. Seharian di rumah bermalas-malasan sambil menonton film lebih menarik daripada harus dihadapkan pada setumpuk pekerjaan. Disitulah letak tantangannya, kita harus bisa mengalahkan rasa malas dan mensugesti pikiran kita akan keberhasilan dari kerja keras. Begitu juga ketika kita mengalami situasi saat kehilangan motivasi. Kita harus mampu membuat diri kita langsung bangkit dari keterpurukan tanpa harus berlama-lama merenungi kesedihan. Kalau kita sudah bisa mengalahkan diri kita sendiri maka akan sangat mudah mengalahkan orang lain.

As we know, lingkungan sekitar bisa memberikan efek negatif pada diri kita. Kalau kita melihat orang-orang di sekitar kita bermalas-malasan, lantas jangan justru berpikir “Ah, mereka aja begitu, jadi saya santai aja”. No! Kalahkan dirimu dari pengaruh lingkungan buruk seperti itu. Justru kalau mereka bermalas-malasan kita harus melakukan sesuatu yang lebih dari mereka. Kita pasti sudah sering mendengar sebuah quote yang mengatakan : “Kalau mereka diam saja maka kita harus berjalan, kalau mereka berjalan maka kita harus berlari”. Artinya, jangan hanya melakukan sesuatu sesuai dengan standar lingkungan sekitar, lakukan sesuatu yang lebih dengan begitu kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih pula. Setidaknya kalau orang-orang di sekitar kita cenderung sering mengeluh, maka kita jangan ikut-ikutan mengeluh. Dengan begitu, kita sudah maju satu langkah dari mereka. Tapi apa iya kita hanya mau unggul satu langkah selamanya? Kalau bisa lebih maju sepuluh langkah, dua puluh langkah atau bahkan seribu langkah, kenapa tidak? Asal kita mau bekerja keras dan punya komitmen yang kuat.

Selain itu, terlalu berlebihan menjadikan orang lain sebagai saingan justru tidak baik. Kita bisa dibuatnya frustasi. Memang apa salahnya kalau kita bisa sukses bersama-sama? Tidak salah bukan, justru menyenangkan. Tidak selamanya kita harus berada di atas mereka. Kita harus sadar bahwa setiap orang punya kelebihan dan kekurangan, serta punya kesempatan yang sama untuk bisa sukses. Berbagi ilmu dan pengalaman tidak akan membuat kita kehilangan kesuksesan kita, justru bisa menaikkan derajat kita dan bisa menambah wawasan. Intinya, pintar jangan disimpan sendiri, sukses jangan disimpan sendiri. Bukankan berbagi terhadap sesama itu indah? Bukankan kesuksesan yang sesungguhnya itu saat kita bisa bermanfaat bagi orang lain? Tentu saja. Mari kita mulai untuk menjadikan orang-orang di sekitar kita sebagai rekan kita untuk bekerja bersama-sama, saling bertukar pikiran dan ide serta berbagi ilmu dan pengalaman, bukan dijadikan sebagai saingan. Proverb say, “A dream you dream alone is only a dream. A dream you dream together is reality”. Tepat sekali.

Intinya, fokuslah terhadap tujuan yang ingin kita capai. Tak masalah kalau kita melirik kanan kiri untuk melihat keadaan sekitar. Justru itu sangat diperlukan untuk mengetahui medan yang sedang kita jalani. Akan tetapi, jangan sampai hal tersebut justru mengganggu fokus tujuan kita. Sebenarnya, kita harus sadar bahwa di atas langit masih ada langit, artinya kita tidak bisa selamanya berada di atas. Daripada kita pusing dan frustasi melihat orang-orang yang terus mengalami kemajuan pesat pada dirinya, mending yuk kita fokus ke diri kita sendiri. Mulai sekarang ganti mindset kita untuk menjadikan diri kita sebagai musuh terbesar yang harus ditaklukan. Kalau kita sudah bisa mengendalikan diri kita dan berusaha keras untuk mencapai tujuan kita, maka kita akan dengan cepat menyusul kesuksesan orang-orang di sekitar kita. So, jadikanlah dirimu sebagai rival yang harus kamu kalahkan dan jadikanlah orang lain bukan sebagai sainganmu tapi sebagai rekanmu untuk  mencapai kata sukses.

Please kindly also visit http://youngontop.com/notes/your-rival-is-you-not-others-swj5xmvu

Terima kasih 🙂