Belajar tentang belajar


wp-1470229822281.jpeg

Entah karena pengaruh umur, atau karena sudah terlalu muak 20 tahun belajar non-stop, atau memang ilmu dunia yang makin susah, intinya, belajar tak lagi semenyenangkan dulu. Otak rasanya tumpul, daya ingat makin lemah, daya tangkap makin berkurang. Haduh! Kalau dulu aku bisa membaca buku sampai beberapa BAB sekali duduk, sekarang susah sekali rasanya mencapai halaman terakhir tiap BAB. Tak hanya itu, butuh waktu beberapa kali membaca ulang textbook untuk bisa paham betul dengan materi yang dipelajari. Kondisi ini sebenarnya sudah mulai mengkhawatirkan, sampai akhirnya aku bercerita pada Mama dan cuma dijawab, “Nanti mama beliin minyak ikan ya”

But thanks to Pinterest, akhirnya aku coba mencari tahu bagaimana caranya supaya bisa belajar dengan baik.

I need a wide range of studying tool

Aku adalah tipe orang yang suka menghabiskan uang untuk stationery. Tak masalah, selama itu bisa membuat momen belajar menjadi menyenangkan. At least, dalam belajar, kita butuh buku tulis. Trust me, menulis di buku yang sebenernya lebih meningkatkan daya ingat daripada menulis di buku imajiner pada tablet. Buku tulis yang dipilih harus menarik atau sekalian buat custom notebook sesuai style masing-masing. Aku juga suka menggunakan kertas binder polos. Aku tidak terlalu suka menggunakan kertas yang bergaris, karena kertas polos menurutku lebih bisa membuat otak kita lebih kreatif dalam membuat catatan daripada yang bergaris. Selain itu, gunakan pulpen dengan berbagai macam warna. Beli highlighter setidaknya 3 warna yang berbeda.

Read More »

Cerita drg Arfan SpBM : dokter gigi kidal


“Tantangan tersulit yang saya hadapi ketika koass adalah saya kidal” ujar drg. Arfan SpBM, MARS dalam Get Inspired! 3 yang diselenggarakan oleh Denspiration.

Di negara kita, menjadi kidal akan punya kesulitan dua kali lipat untuk jadi dokter gigi daripada yang tidak kidal. Pasalnya, kita hanya punya dental unit (re: kursi gigi) yang didesain untuk orang-orang yang dominan menggunakan tangan kanan. Di luar negeri memang ada dental unit yang didesain khusus untuk orang-orang left-handed, tapi harganya tentu jauh lebih mahal.

Drg Arfan sempat hampir putus asa ketika koass dan akhirnya memilih ‘pelarian’ dengan ambil S2 manajemen rumah sakit di FKMUI sambil tetap menjalani rutinitas sebagai koass di FKGUI. Wah, apa gak tambah stress tuh dok? Tapi karena beliau memang menyukai ilmu manajemen, kuliah di FKMUI terasa menyenangkan. Namun, di tengah perjalanan beliau memutuskan untuk cuti sebentar dari FKM UI dan fokus menyelesaikan koassnya karena agak kewalahan membagi waktu antara keduanya.

Setelah akhirnya beliau mendapatkan gelar sebagai dokter gigi dan sekaligus menyelesaikan S2, beliau memutuskan untuk bekerja di suatu badan pemerintahan yang bergerak di bidang ‘perumahsakitan’. Beliau sebenarnya cerita banyak tentang pengalaman beliau selama bekerja disana, sampai akhirnya beliau memutuskan untuk ‘resign’ karena ada ketidakcocokan idealisme disana. Disinilah beliau mulai berpikir untuk kembali berkarir sebagai ‘dokter gigi’.

Tahun 2007, beliau memutuskan untuk mengambil program spesialis bedah mulut di FKGUI. Daaaaaannnnn beliau mulai bercerita tentang kisahnya sebagai residen bedah mulut mulai dari tingkat 1 sampai tingkat 5 yang bikin kita terperangah saking serunya. Kuliah  bedah mulut itu seru! seru banget, tapi yang bikin gak seru kuliah spesialisnya paling lama, paling berat dan paling mahal haha. Tapi kalo passion sih, hajar aja.

Saya tidak usah cerita lebih jauh tentang kisah beliau sebagai dokter spesialis bedah mulut karena semua orang pasti tahu gimana hebatnya skill beliau. Loh, terus kidalnya gimana? Jawabannya cuma satu, practice, latihan terus sampai terbiasa bekerja dengan menggunakan tangan kanan. Ternyata ada banyak dokter gigi yang kidal tapi karena terus berlatih akhirnya mereka bisa jadi dokter gigi sukses.

Jadi, jangan mudah menyerah untuk koass-koass yang sekarang lagi mati-matian berjuang untuk jadi dokter gigi. Ada satu quote yang saya suka dari beliau, “Dalam bekerja, bekerjalah yang ketika pekerjaanmu selesai, kamu bisa tidur nyenyak malam harinya”. Pesan untuk seluruh dokter gigi, bekerjalah dengan ilmu dan hati nurani,

Denspiration


Aku mau share sedikit tentang Denspiration, yang merupakan satu-satunya komunitas yang aku punya sekarang. Komunitas ini awalnya aku buat bersama temanku, Laila, dan kemudian kita mengajak teman-teman Mapres FKGUI yang lain. Get Inspired! adalah program di bawah Denspiration yang punya tujuan untuk saling berbagi ilmu satu sama lain.

Pada Get Inspired! yang pertama, kita mengangkat tema “How to establish a great dental clinic” dengan pembicara drg. Anggraeni SpKG dan drg. Sandra SpPerio. Pada sesi ini, kita belajar gimana caranya supaya setelah menjadi dokter gigi kita bisa membangun klinik yang sukses. Seru! Karena selama ini gak ngerti apa-apa tentang bikin klinik dan sekarang jadi tahu kalo bikin klinik itu susah susah gampang. Get Inspired! yang kedua kita angkat tema tentang “Study abroad: Chances and Challenges”. Kali ini gak kalah seru karena pembicaranya adalah dosen favoritku, drg. Benny M. Soegiharto, MSc., MOrthRCS, PhD., SpOrt, dan Kak Faldo Maldini, Ketua PPI UK. Pas banget buat temen-temen yang bingung harus mulai darimana untuk kuliah di luar negeri habis lulus drg. Then, dua minggu lalu baru aja diadain Get Inspired! yang ketiga dengan tema, “Passionate dentist: from zero to hero”. Well, perjalanan panjang justru dimulai setelah kita mendapat gelar drg. Lulus bukan berarti semua kelelahan dan pengorbanan berakhir, justru itulah titik awal perjalanan kesuksesan kita. Drg. Arfan SpBM dan drg Nada SpOrt mengajarkan kita bahwa ‘love our job” adalah cara yang sangat baik untuk bisa survive dan menjadi dokter gigi sukses. Oke deh, tunggu sesi Get Inspired! selanjutnya ya! Agak nyesel kemarin-kemarin gak ngeshare ilmu yang didapet dari Get Inspired!. Next time insya Allah.

Denspiration – Get inspired and be an inspiration

Cerita di poli


Jumat, 17 April 2015, RSCM.

Siang tadi, saat sedang jaga di poli PM RSCM, datang seorang laki-laki, 55 tahun, konsul dari IPD. Pasien mengeluh adanya ‘putih-putih’ di lidah dan langit-langit mulut sejak 1 tahun yang lalu dan tidak pernah sembuh.

“Bapak merokok?”
“Iya, merokok.”
“Sejak kapan?”
“Wah udah lama, dok. Sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu.”
“Berapa bungkus rokok biasanya per hari, Pak?”
“Sekitar satu setengah bungkus”
“Bapak juga minum alkohol?”
“Iya, dok, saya minum. Saya juga pernah pake narkoba dok.”
“Sejak kapan minum alkoholnya, Pak?”
“Waktu saya masih SD, dok”
“Kalau pake narkobanya sejak kapan?”
“Narkoba saya pake waktu saya SMP”
“Sekarang masih pake, Pak?”
“Sudah enggak dok. Alkohol, narkoba semua saya stop waktu tahun 2000. Tapi sejak pertama kali minum alkohol dan pake narkoba sampai sebelum tahun 2000 itu saya non stop dok.”

Sedih. Di saat harusnya anak-anak jenjang SD dan SMP belajar menuntut ilmu sebanyak-banyaknya, tapi entah bagaimana bisa di usia tersebut sudah mengenal rokok, alkohol bahkan narkoba. Saya bertanya-tanya lingkungan seperti apa yang membuat anak-anak bisa sebegitu menyimpangnya. Dimana peran keluarga, sekolah, lingkungan, teman? Bahkan kalau dilihat dari latar belakangnya, ybs termasuk berpendidikan menurut saya, sosioekonomi pun tidak buruk.

Kasihan.. di masa tua justru harus menanggung beban penyakit yang begitu banyak. Tapi satu hal yang saya lihat dari Bapak tersebut, keinginannya untuk menjadi lebih baik begitu kuat. Semoga Allah selalu melindungi Bapak, dan semoga penyakit yang Bapak derita menjadi penghapus dosa-dosa Bapak di masa lalu.

Dok, tapi kalau saya baca di internet…


RSCM, 30 Maret 2015

Seorang pasien, laki-laki, 33 tahun, datang dengan keluhan lidah terasa seperti minum air panas sejak 6 hari yang lalu. Sejak sehari yang lalu, lidah terasa sakit di bagian pinggir sebelah kanan dan kiri, serta muncul bintik-bintik merah dan berdarah di ujung lidah. Satu bulan yang lalu, pasien pernah mengalami kondisi yang sama. Pasien tidak mempunyai riwayat penyakit sistemik.

Saat itu, pasien datang dalam kondisi yang sangat panik dan khawatir. Setelah dilakukan anamnesa yang lebih lengkap dan pemeriksaan klinis, pasien didiagnosia Glossodynia e.c oklusi yang tidak baik dan banyak gigi yang tajam menyebabkan iritasi pada lidah. Saat dijelaskan kondisi yang terjadi, pasien memberikan respon seperti ini,

“Dok, tapi kalau saya baca di internet, apa yang saya alami sekarang adalah tanda-tanda HIV-AIDS dan kanker mulut. Bener dok cuma karena gigi saya yang tajam? Saya takut banget, dok.”

Bukan pertama kalinya saya mendengar pasien berkata, “Tapi dok, kalau saya baca di internet… bla bla bla bla”. Saya tidak menyalahkan jika kita mencari informasi sebanyak mungkin melalui internet. Tapi hal ini akan menjadi salah jika kita mengambil kesimpulan sendiri yang menyebabkan kita menjadi panik dan khawatir berlebihan. Perlu kita sadari bahwa untuk menegakkan diagnosa suatu penyakit tidak bisa hanya dengan sedikit informasi dari pasien, perlu anamnesa yang lengkap, pemeriksaan klinis dan bahkan dibutuhkan pemeriksaan penunjang. Jadi jangan mudah percaya dengan apa yang dibaca di internet, apalagi kalau yang dibaca adalah situs-situs yang tidak jelas keakuratannya.

Saya jadi ingat kemarin di RSCM, ada pasien, wanita, 19 tahun yang datang dengan keluhan bibir kering dan gusi bengkak yang kemudian didiagnosis Cheilosis dan gingivitis. Saya tidak paham apa yang dibacanya di internet sampai-sampai dia begitu ketakutan kalau terkena kanker. Saking takutnya, pasien sudah seminggu tidak mau makan, minum, tidak bisa tidur dan hanya mengurung diri di kamar. Padahal, hampir semua lesi oral memiliki faktor predisposisi defisiensi imun, stress dan tidak cukup istirahat. Penyakit yang tadinya hanya penyakit ringan, bisa saja semakin bertambah parah jika pasien justru menjadi stress, panik, apalagi sampai tidak mau makan dan minum.

Semoga kita semakin cerdas dalam mengambil informasi di internet. Apapun sakitnya, serahkan saja ke dokter. Internet tidak akan bisa mendiagnosa penyakit. Boleh saja membaca di internet kalau justru bisa memotivasi kita untuk berobat ke dokter dan tidak cuek dengan sakit yang dialami. Tapi harus berasal dari sumber yang dipercaya, misal textbook atau jurnal. Sekian. Semoga cepet sembuh untuk pasien-pasien di atas 🙂

Overnight Oatmeal


10408571_10203876790589316_4120332985923040625_n

Buat yang suka makan oat, boleh nih dicoba overnight oatmeal. Buat yang gak suka makan oat juga boleh dicobain. Soalnya, oat yang udah dibikin jadi overnight oatmeal rasanya jadi enak, menurutku. Caranya? Simpel. Oat dicampur susu + yogurt terus dimasukin ke kulkas semaleman. Tapi di atasnya dipakein topping dulu ya biar tambah enak, toppingnya sesuai selera aja. Bisa pake buah-buahan, madu, coklat, selai. Cobain deh 🙂