Watercolor Bookmark!


Advertisements

Jalan Setapak


(My brush was not working properly on the detail)

Delapan kali lima meter, luas ruangan tempat aku menyandarkan punggung di sisi tempat tidur. Cukup luas, tak sempit seperti pikiran tentang satu hal tak berganti. Ada lampu tergantung yang begitu terang, tapi khayalan bebas terbang ke jalan setapak di tengah hutan gelap. Aku duduk di lantai beralas karpet, menghadap layar sambil berusaha fokus merangkai kalimat, meski penuh distraksi kanan kiri. Ohya, di ujung jalan setapak, ku lihat seberkas cahaya matahari terbenam. Ya sunset selalu mengagumkan, tapi gelap malam setelahnya yang tidak kusuka. Sunrise juga indah, tapi bekunya udara subuh terlalu menusuk kulit, dinginnya yang tidak kusuka. Karakter jiwa ini memang rumit, maaf.

Ah, cahaya. Selaras dengan hati yang hanya menyukai pagi hingga sore, tidak dengan malam. Malam penuh dengan rasa sepi, sialnya aku adalah manusia susah tidur. Tak heran aku bersemangat melelahkan diri seharian, demi tidak terjaga tengah malam. Tapi jika lelah, aku mengutuki diri sendiri karena kusebut penyiksaan badaniyah. Ah, sudah kubilang aku rumit, maaf.Read More »