Watercolor Bookmark!


Advertisements

Jalan Setapak


(My brush was not working properly on the detail)

Delapan kali lima meter, luas ruangan tempat aku menyandarkan punggung di sisi tempat tidur. Cukup luas, tak sempit seperti pikiran tentang satu hal tak berganti. Ada lampu tergantung yang begitu terang, tapi khayalan bebas terbang ke jalan setapak di tengah hutan gelap. Aku duduk di lantai beralas karpet, menghadap layar sambil berusaha fokus merangkai kalimat, meski penuh distraksi kanan kiri. Ohya, di ujung jalan setapak, ku lihat seberkas cahaya matahari terbenam. Ya sunset selalu mengagumkan, tapi gelap malam setelahnya yang tidak kusuka. Sunrise juga indah, tapi bekunya udara subuh terlalu menusuk kulit, dinginnya yang tidak kusuka. Karakter jiwa ini memang rumit, maaf.

Ah, cahaya. Selaras dengan hati yang hanya menyukai pagi hingga sore, tidak dengan malam. Malam penuh dengan rasa sepi, sialnya aku adalah manusia susah tidur. Tak heran aku bersemangat melelahkan diri seharian, demi tidak terjaga tengah malam. Tapi jika lelah, aku mengutuki diri sendiri karena kusebut penyiksaan badaniyah. Ah, sudah kubilang aku rumit, maaf.Read More »

Seni mencintai


Tanah selalu basah tiap malam, tak pernah ku kira musim hujan masih berumur hingga menjelang akhir April. Malam ini aku akan bicara tentang satu hal yang didambakan setiap yang bernyawa, yaitu cinta.

Kok gue jadi geli sendiri ya hahaha. By the way, pernah baca buku The art of Loving karya Erich Fromm? Lebih seru kalo bahas cinta not only based on experience, but also based on books ya. Basically, kalau kalian perhatikan, seluruh novel di dunia ini isinya cuma satu, yaitu tentang cinta. Kenapa? Karena cinta gak melulu tentang lelaki dan perempuan, tetapi ada banyak cinta-cinta lainnya, termasuk cinta ke Tuhan, keluarga, pekerjaan, hobi, negara bahkan cinta pada diri sendiri.Read More »