Rainbow Rowell : Eleanor & Park


Hmm.. Eleanor & Park adalah kisah tentang anak SMA, tapi rasanya kurang pas jadi bacaan anak SMA. Buku ini bukan untuk jadi inspirasi anak remaja dalam menjalani hari bersama cinta pertamanya, tapi lebih ke mengingatkan kita, yang sudah dewasa, bagaimana manisnya cerita cinta saat di sekolah dulu (walaupun sebenernya cerita cinta yang dipunya waktu remaja gak ada mirip-miripnya sama Eleanor & Park tapi yaudahlah ya).

Eleanor, gadis putih berambut merah, tidak kurus dan punya gaya berpakaian yang (kasarnya) ‘minta dikatain’. Tapi anehnya yang dibayanganku justru Eleanor punya penampilan yang biasa aja. Entahlah, rasanya tidak ada yang salah dengan gadis putih campuran Denmark-Skotlandia, berambut merah keriting, memakai kemeja kotak-kotak kebesaran dengan syal-syal di pergelangan tangan. Iya kan?

Lalu, Park, lelaki campuran Amerika-Asia, yang tidak bisa kubayangkan sama sekali bagaimana rupanya. Aku akan jatuh cinta dengan Park kalau saja aku masih berusia 16 tahun. Lelaki ini….. 100% book-boyfriend-material. Park suka baca buku, komik sih lebih tepatnya. Dia suka mendengarkan musik-musik berkualitas. Park adalah laki-laki yang akan meminjamkanmu buku-bukunya hanya untuk bisa ngobrol denganmu di kemudian hari. Atau dia akan merekam lagu-lagu favoritnya ke dalam kaset dan meminjamkannya padamu untuk kamu dengar sebagai pengantar tidur. Park seperti itu, yang jelas akan melelehkan anak remaja manapun. Tapi Park, hanya anak lelaki biasa, bukan anak lelaki populer kaya mengagumkan (dan juga membosankan) yang biasa ada di buku atau drama remaja pada umumnya. Itulah kenapa Park menarik.Read More »

Advertisements

Manado!


Hello, I’m back! Setelah 16 hari melalang buana di Jakarta dan Manado, finally bisa duduk depan laptop di kamar sendiri. Gue berangkat ke Jakarta hari Kamis, 21 September. Sebenernya tujuan utama gue mau ke Manado tapi ya karena flight ke Manado super pagi, mau gak mau stay di Jakarta dulu, terus karena mau stay di Jakarta, jadi sekalian aja berangkat hari kamis biar jumatnya bisa ke kampus dulu buat legalisir ijazah. Ribet ya, yaudahlah ya. Gue di Jakarta berasa kayak kerja rodi, capeeek banget. Hari jumat gue ke kampus, terus mesti banget ke grapari telkomsel dulu karena satu dan lain hal, terus siangnya gue ke Innisfree (yang udah lama pengen banget kesana karena sekarang udah gak bisa impor skincare dari Althea *cry*). Sabtunya, gue ke kliniknya Tiara, yang gue pikir ada di depok, ternyata lokasinya ada di Sawangan yang jauhnya jauh banget, terus habis dari Sawangan gue mesti ketemu Laila ngomongin kerjaan di Bekasi, yang malah makin jauh haha. Gue berasa lintas negara saking lelahnya.Read More »

Standar Hidup


Ketika udah memasuki masa harus cari uang sendiri buat bertahan hidup, rasa-rasanya kita perlu belajar menentukan standar hidup dengan bijak. Gak salah kok kalau kita belajar dengan memperhatikan standar hidup orang lain. Masalahnya, di era serba media sosial kayak sekarang, standar hidup gak bisa disimpulkan langsung hanya dengan apa yang terlihat di layar kaca. Contoh, kalau di instagram, rasanya semua orang hidupnya sempurna. Punya keluarga bahagia, pasangan romantis, uang berlimpah, makan di luar terus, tiap weekend jalan-jalan, baju makeup tas branded semua. Beda lagi kalo di twitter (sekarang twitter udah rame lagi ya), orang ya kalau di twitter yang dipamerin bukan gaya hidupnya, tapi masalah hidup lol. Makanya twitter tuh rasanya penuh dengan orang-orang yang hidupnya gak baik-baik aja. Banyak kok yang kontras kayak gitu antara isi akun instagramnya dan isi akun twitternya. Kalo facebook? Hmm.. facebook apa ya isinya sekarang, kayaknya banyak yang sharing artikel-artikel gitu ya, mulai dari yang artikel informatif, atau yang menginspirasi gitu sampe yang lucu-lucu juga ada. Ya lumayan sih hiburan. Terus apa lagi? Kayaknya sosmed yang masih gue buka sekarang cuma 3 itu aja.

Gue sebenernya tertarik bahas ini gegara di twitter lagi rame seorang selebgram yang ngetweet kalo doi heran sama orang yang pake barang dari ujung kepala sampe ujung kaki berjuta-juta dan doi bilang kalo orang yang kaya aja lebih suka hambur-hambur, terus kalo orang yang kaya banget lebih seneng sedekah atau bikin charity. Terus doi bilang lagi kalo udah ngerasa ngeluarin duit 150 ribu buat makan itu biasa, tandanya ada yang salah sama diri kita.Read More »

Jalan Setapak


(My brush was not working properly on the detail)

Delapan kali lima meter, luas ruangan tempat aku menyandarkan punggung di sisi tempat tidur. Cukup luas, tak sempit seperti pikiran tentang satu hal tak berganti. Ada lampu tergantung yang begitu terang, tapi khayalan bebas terbang ke jalan setapak di tengah hutan gelap. Aku duduk di lantai beralas karpet, menghadap layar sambil berusaha fokus merangkai kalimat, meski penuh distraksi kanan kiri. Ohya, di ujung jalan setapak, ku lihat seberkas cahaya matahari terbenam. Ya sunset selalu mengagumkan, tapi gelap malam setelahnya yang tidak kusuka. Sunrise juga indah, tapi bekunya udara subuh terlalu menusuk kulit, dinginnya yang tidak kusuka. Karakter jiwa ini memang rumit, maaf.

Ah, cahaya. Selaras dengan hati yang hanya menyukai pagi hingga sore, tidak dengan malam. Malam penuh dengan rasa sepi, sialnya aku adalah manusia susah tidur. Tak heran aku bersemangat melelahkan diri seharian, demi tidak terjaga tengah malam. Tapi jika lelah, aku mengutuki diri sendiri karena kusebut penyiksaan badaniyah. Ah, sudah kubilang aku rumit, maaf.Read More »