Seni mencintai


Tanah selalu basah tiap malam, tak pernah ku kira musim hujan masih berumur hingga menjelang akhir April. Malam ini aku akan bicara tentang satu hal yang didambakan setiap yang bernyawa, yaitu cinta.

Kok gue jadi geli sendiri ya hahaha. By the way, pernah baca buku The art of Loving karya Erich Fromm? Lebih seru kalo bahas cinta not only based on experience, but also based on books ya. Basically, kalau kalian perhatikan, seluruh novel di dunia ini isinya cuma satu, yaitu tentang cinta. Kenapa? Karena cinta gak melulu tentang lelaki dan perempuan, tetapi ada banyak cinta-cinta lainnya, termasuk cinta ke Tuhan, keluarga, pekerjaan, hobi, negara bahkan cinta pada diri sendiri.

Oh, tapi memang kayanya lebih seru kalau kita bahas tentang cinta antara laki-laki dan perempuan ya haha. Yang pasti ini cerita soal orang dewasa, cinta anak belasan tahun gak masuk hitungan.

So, what do you think about true love?Β Gue sih sampe sekarang masih percaya denganΒ true loveΒ a.k.a cinta sejati. Bukan karena kebanyakan baca novel atau nonton film, tapi yakin aja kalau siapapun pasti bisa punya cinta sejati asal mau berusaha. Urusan cinta memang gak pernah mudah, makanya pasti butuh pengetahuan dan usaha. Kebanyakan orang memandang masalah cinta sebagai soal dicintai, bukan mencintai. Makanya jelas banyak orang melakukan usaha-usaha agar bisa dicintai oleh orang lain, seperti memperbaiki penampilan, mencari pekerjaan yang bagus, berusaha keras mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Itu semata bertujuan agar kita bisa dicintai. Selain itu, kita sering menganggap cinta adalah sebuah objek, bukan sebuah kemampuan. Kebanyakan orang akan mencari seseorang yang mereka anggap pantas untuk dicintai. Orang berpikir bahwa mencintai itu mudah, menemukan objek untuk dicintai yang susah. Apa itu salah? Menurutku sih gak salah, tapi rasanya kurang tepat kalau tujuan kita untuk menciptakan cinta sejati.

Dulu aku menganggap bahwa orang-orang hanya akan menikah dengan orang yang mereka cintai, tapi nyatanya banyak orang yang menikah karena alasan lain selain cinta. Kok bisa? Itu satu-satunya pertanyaanku sampe sekarang. Gimana caranya seseorang bisa mengabdikan diri lahir bathin sebagai istri/suami kalau dia bahkan gak sepenuhnya cinta sama pasangannya? Tapi ada juga yang di awal terlihat saling mencintai tetapi belum lama setelah menikah udah gak mesra lagi? Ah, manusia memang rumit ya.

Itulah kenapa, kita harus belajar cara mencintai yang baik. Cinta itu bukan sekedar perasaan, tetapi juga merupakan keputusan, tanggung jawab dan janji.

Advertisements

3 thoughts on “Seni mencintai

  1. Ada yang bilang hubungan itu tetap bisa berjalan tanpa cinta selama ada komitmen. Then shall we consider commitment as part of love?

    Itulah sebabnya immerse in love itu penting #wink πŸ˜‰

    • Of course we should consider commitment as part of love, the biggest part of love beside our feeling. It’s impossible to be in happy relationship without commitment, and love. Some people used to believe that relationship only needs commitment to survive, but I wonder about their happiness *wink* #pejuangkebahagiaan #wqwqwq

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s