Kemah Lawas : Part 4


Tak ada yang menjamin sepenuhnya ikatan darah akan mengiringmu ke dalam ranah kasih sayang. Tak ada yang menjamin pula kau pasti akan menyayangi orang-orang yang telah digariskan takdir untuk menjadi bagian hidupmu. Kau sebut apa ini jika orang yang terlilit tali kekeluargaan denganmu justru menjadi orang paling tak berhati yang pernah kau temui. Aku muak melihat orang-orang disekitarku bisa bermain riang sambil digendong oleh ayahnya. Aku muak melihat teman-temanku mencium pipi ibunya sebelum masuk ke dalam kelas. Aku muak mendengar orang-orang mencibirku dengan kasar. Walau aku masih dianggap anak ingusan, jangan pikir aku tak pernah tahu para orang dewasa yang dengan ketidakdewasaannya selalu bermain silat lidah di belakang kakek dan nenekku.

Apa salahnya jika aku tak punya orang tua? Toh aku tak pernah memilih untuk dilahirkan oleh mereka. Ah, siapa juga yang bilang aku tak punya orang tua. Nyatanya mereka masih bernyawa sampai saat ini. Sayangnya, mereka hanya punya nyawa tapi tak punya hati. Bertahun-tahun meninggalkanku, tiba-tiba lelaki –yang kata nenek- adalah ayahku muncul di hadapanku, membawa seorang wanita –yang kata nenek- bukan ibuku dan seorang anak laki-laki kecil –yang kata nenek- adalah saudaraku. Saat itu aku baru menginjak bangku sekolah dasar. Aku tak mengenal mereka dan aku tak mau mengenal mereka. Lelaki, yang mengaku sebagai ayahku, mencoba menggendong dan mencium pipiku. Aku memberontak. Mataku melotot. Aku segera berlari dan mengunci pintu kamar.

Lima tahun yang lalu saat aku masih duduk di kelas tigas sekolah dasar, bukan lelaki itu lagi yang datang, tapi seorang wanita –yang kata nenek- adalah ibuku. Ah, siapa lagi mereka, pikirku. Tak tanggung-tanggung, ia datang membawa dua orang anak kecil, perempuan dan laki-laki. Nenek bilang, mereka adalah saudaraku. Wanita itu –maksudku ibuku- melakukan persis apa yang dilakukan oleh ayahku waktu itu. Ia mencoba menggendong dan mencium pipiku. Reaksiku sama, aku memberontak dan mataku melotot. Aku segera berlari dan mengunci pintu kamar.

Bukannya aku tak mau merasakan rasanya digendong dan dicium oleh ayah dan ibu. Bukannya aku tak mau merasakan hangatnya dibelai dengan kasih oleh ayah dan ibu. Tapi lihatlah, kenapa harus ada anak-anak lainnya di antara mereka. Mengapa aku harus dirawat oleh kakek dan nenek sementara mereka bisa tinggal bersama orang tua. Mengapa mereka bisa setiap hari memanggil ‘ayah’, memanggil ‘ibu’, sementara aku tak pernah sekalipun bisa memanggil seseorang dengan sebutan seperti itu. Sudahlah, kemampuan berpikirku masih belum bisa mencapai level setingkat itu.

Kuhentikan pandanganku yang sedari tadi hanya berputar mengelilingi langit-langit kamar. Aku menarik selimut sampai menutupi semua bagian tubuhku. Aku bergumam pelan sampai akhirnya kelopak mataku tertutup dengan sempurna.

Belum lama aku memejamkan mata, kudengar dentingan piano mengalun indah di telingaku. Aku membuka kedua mataku dan kudapati diriku sedang berdiri di samping seorang anak laki-laki yang jari-jarinya menari indah menekan setiap tangga nada dalam piano. Aku menyapanya, ia tak menghiraukanku. Aku menyapanya lagi, ia masih tak menghiraukanku. Aku berteriak menyapanya, ia tetap tak menghiraukanku. Aku mengernyitkan dahi. Sebal, aku berbalik badan dan berjalan menjauhinya. Ia menghentikan permainan pianonya. Aku kembali membalikkan badan menghadapnya.

“Baru tiga kali mencoba menyapaku tapi kamu sudah berbalik badan. Payah.” Ujarnya menatapku.

“Eh? Justru kamu yang sudah tiga kali disapa tapi nyatanya pura-pura tidak mendengar.”

“Cuma ngetes.” Dia tertawa. “Kamu sedang apa disini?”

“Tidak tahu.” Jawabku seadanya.

“Bohong. Pasti kamu kesini mau mendengar bagusnya permainan piano ku, kan?”

“Ketemu kamu baru pertama kali, bagaimana bisa tahu permainan piano kamu bagus.”

Dia tertawa lagi. “Kamu disini sendirian? Keluarga kamu dimana?”

Raut wajahku berubah masam. “Aku tidak punya keluarga. Sudahlah mengucapkan kata keluarga. Aku sedang tidak ingin mendengarnya.”

“Loh kenapa? Keluarga adalah harta paling berharga yang kita punya bukan?” Ia menggeser posisi duduknya, menyuruhku untuk duduk di sebelahnya. Aku mengangguk.

“Bagi sebagian besar orang iya, tapi menurutku tidak”

“Jadi kamu tidak punya keluarga?” Ia menutup pianonya. Wajahnya terlihat prihatin namun penasaran.

“Ada, kakek dan nenek adalah keluargaku.”

“Kamu membenci mereka?”

‘Tidak. Bukankah yang disebut keluarga adalah ayah, ibu, dan anak? Nah itulah yang aku benci.” Aku menelan ludah. Tak sadar mengucapkan yang tak pernah kuucapkan sebelumnya. Pikiranku meluncur ke arah kebenaran yang masih kupertanyakan pada hati kecilku.

“Mau cerita?” matanya membujuk. Aku menggeleng.

“Yasudah. Aku tidak mau masuk terlalu jauh dalam urusan keluargamu. Tidak apa kalau kamu tidak mau cerita. Tapi mungkin apa yang akan aku katakan ini bisa jadi renungan.” Dia tersenyum sebentar. “Aku tak tahu seberapa besar rasa benci kamu terhadap orang tua yang kamu miliki. Keluarga adalah tempat dimana kita bisa menjadi orang paling bahagia sejagad raya, tapi keluarga juga yang kadang bisa membuat kita jadi orang paling sedih sejagad raya. Dengan kata lain, orang-orang yang bisa membuat kamu merasa sangat bahagia justru adalah orang-orang yang bisa membuat kamu merasa sangat sedih. Inilah yang disebut dinamika kehidupan. Tak ada yang konsisten, rata-rata mengacu pada sifat fleksibelitas. Hidup ini tujuannya cuma satu, kebahagiaan. Kalau kamu tidak bahagia, untuk apa kamu hidup sepanjang hayat hanya bisa meratapi kesedihan. Temukan kebahagiaanmu sendiri. Keluarga adalah tempat kamu merebahkan diri dalam ketenangan. Kalau kamu tidak menemukan itu dalam keluarga yang sudah ditakdirkan untukmu, cari di tempat lain. Disini misalnya. Apa kamu bahagia bisa duduk di sampingku seperti ini?”

Dia membuatku tiba-tiba menjadi salah tingkah. Aku gugup. Aku tak sanggup menatapnya dalam kegugupan. Kupejamkan mataku dengan cepat. Kugenggam tanganku erat-erat. Sepi. Mengapa ia hanya diam, tanyaku dalam hati. Pelan-pelan kubuka kelopak mataku. Gelap. Hanya terlihat lampu tidur kamar yang menyala di sudut ruangan. Dia sudah pergi, gumamku. Kulihat jam menunjukkan pukul tiga pagi. Aku kembali memejamkan mata menuju alam tidur.

(bersambung)

Advertisements

2 thoughts on “Kemah Lawas : Part 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s