Bandung-ku sayang💜


Bandung memang menyenangkan.

Dalem hati “Ya Allah akhirnya w liburan juga” hehe 🤣 Walopun deket cuma di bandung, tapi cuma bandung yang paling memungkinkan. Kali ini liburan berlima sama temen-temen kuliah, yeaayy akhirnyaaaaa kita ngumpul lagi!

Destinasi liburan kali ini ke ciwidey, sebenernya tujuan utama kita mau cobain glamping legok kondang, sayang aku lupa fotoin tempatnya karena terlalu nikmatin suasana hehe. Tempatnya bagus banget, tapi pas mau kesananya dari bawah ke atas, naik jalan tebing tinggi banget, rada serem sih. Tapi ya worth it lah dengan suasana disana. Terus pas malem dingin banget, aku jadi gak bisa tidur, padahal kan tujuan kesananya mau relaks, istirahat huhu. Tapi gapapaaaaa, terobati dengan suasananya yang enak banget, terus malem malam sebelum tidur dibikinin camping fire sama mas-masnya, sambil curhat-curhatan. Seru pokoknya..

Eh eh, sebelum ke legok kondangnya kita mampir dulu ke kawah putih dan ranca upas, lumayan deket kok dari legok kondangnya. Ini kawah putih cakep banget, walaupun perjuangan karena mesti pake masker padahal mau foto-foto haha. Abis dari kawah putih, kita ke ranca upas tempat penangkaran rusa-rusa, tapi rusanya sedikit, banyakan pengunjungnya 😂

Kawah Putih – Ciwidey

Read More »

Advertisements

Minggu, 20 Mei 2018, 20.48 WIB

Aku keliru, aku pikir ramadhan sudah melangkah selama satu minggu, nyatanya ini masih hari ke-empat. Terasa lama, seberat hati ini beberapa hari terakhir. Aku melewati sahur dan buka tanpa keluarga, malangnya membuatku tidak bersemangat. Yang akhirnya berujung membeli tiket pesawat pulang, impulsif, bersikap “bodo amat” bisa libur atau tidak, nantinya. Dulu, aku sering membaca tentang kehidupan usia 20-an, dimana hanya punya uang dan tenaga, tapi tidak punya waktu. Kini aku merasakannya, plus rasanya aku juga tidak punya tenaga, lelah sekali.

Aku sadar kini aku menjelma sebagai ‘yes man’, atau maybe memang aku seperti ini ternyata. Kekuranganku, susah untuk menolak dan bodohnya ini membuat kepalaku terasa mau meledak dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Tapi lama-lama aku berpikir, ya do your best aja udah ta, anggap aja tabungan amal buat di akhirat, ya semoga benar-benar jadi tabungan amal, bukan malah jadi tumpukan dosa karena mengeluh seperti ini.

Bagian paling tidak enak akibat miskin waktu adalah waktu terasa begitu cepat. Tau-tau udah 2018, tau tau umur udah seperempat abad, tau tau udah bulan Mei aja. Dari sekian banyak hal yang bisa dikeluhkan, terlalu banyak yang bisa disyukuri. Aku tahu cari uang itu susah, tapi tidak ada apa-apa dibanding yang lain. Toh ada banyak orang yang gajinya lebih kecil tapi ada anak istri yang harus dinafkahi, aku mah gajinya juga habis buat diri sendiri aja. Sedih juga kalau lihat driver grab atau gojek sudah berumur yang bahkan terlihat lebih tua dari ayahku, atau bahkan kalau aku jaga igd malam, masih banyak yang bekerja sampai malam atau bahkan subuh-subuh sudah di jalanan. Mereka saja bersemangat, harusnya aku tidak boleh tidak bersemangat kalau mesti masuk jam 7.30 WIB setiap hari atau harus bekerja di hari sabtu dan minggu hampir tiap weekend.

Beratnya pekerjaan ini karena ada banyak hal baru yang tidak aku kenal sama sekali. Basically,, aku seneng seneng aja bisa ditempatkan di bagian manajemen rumah sakit, sayangnya tidak ada yang bisa aku tanya kalau ada hal yang tidak aku paham, karena dokter yang paham sudah resign dari rumah sakit ini. Sering direktur rumah sakitku bilang, nanti lama-lama juga ngerti dan terbiasa. Ya, memang akan seperti itu, dan proses belajar memang tidak mudah dan memang harus dihadapi. Bertambah berat lagi karena selain di manajemen aku juga jaga di poliklinik dan IGD, duh badan rasanya semoga sehat-sehat selalu ya!

Ohya! Selama 4 hari pertama puasa, aku konsisten masak sendiri. Alhamdulillah deta, sebuah prestasi! Haha! Aaannnd it was suprisingly good! Biasanya aku masak cuma seminggu sekali atau seminggu dua kali, mostly makan di kantor soalnya. Berhubung ini bulan puasa dan mau beli dimana makan buat sahur, akhirnya yeah I’m cooking! Sebenarnya juga karena aku tidak terlalu suka makanan di sekitar sini dan belum nemu makanan rumahan yang enak. Seru aja coba-coba resep baru dan berkah ramadhan memang ya enak aja gitu walaupun gak dicicipin hehe.

Okay bye, selamat menunaikan ibadah puasa semuanya 🙂

Rainbow Rowell : Eleanor & Park


Hmm.. Eleanor & Park adalah kisah tentang anak SMA, tapi rasanya kurang pas jadi bacaan anak SMA. Buku ini bukan untuk jadi inspirasi anak remaja dalam menjalani hari bersama cinta pertamanya, tapi lebih ke mengingatkan kita, yang sudah dewasa, bagaimana manisnya cerita cinta saat di sekolah dulu (walaupun sebenernya cerita cinta yang dipunya waktu remaja gak ada mirip-miripnya sama Eleanor & Park tapi yaudahlah ya).

Eleanor, gadis putih berambut merah, tidak kurus dan punya gaya berpakaian yang (kasarnya) ‘minta dikatain’. Tapi anehnya yang dibayanganku justru Eleanor punya penampilan yang biasa aja. Entahlah, rasanya tidak ada yang salah dengan gadis putih campuran Denmark-Skotlandia, berambut merah keriting, memakai kemeja kotak-kotak kebesaran dengan syal-syal di pergelangan tangan. Iya kan?

Lalu, Park, lelaki campuran Amerika-Asia, yang tidak bisa kubayangkan sama sekali bagaimana rupanya. Aku akan jatuh cinta dengan Park kalau saja aku masih berusia 16 tahun. Lelaki ini….. 100% book-boyfriend-material. Park suka baca buku, komik sih lebih tepatnya. Dia suka mendengarkan musik-musik berkualitas. Park adalah laki-laki yang akan meminjamkanmu buku-bukunya hanya untuk bisa ngobrol denganmu di kemudian hari. Atau dia akan merekam lagu-lagu favoritnya ke dalam kaset dan meminjamkannya padamu untuk kamu dengar sebagai pengantar tidur. Park seperti itu, yang jelas akan melelehkan anak remaja manapun. Tapi Park, hanya anak lelaki biasa, bukan anak lelaki populer kaya mengagumkan (dan juga membosankan) yang biasa ada di buku atau drama remaja pada umumnya. Itulah kenapa Park menarik.Read More »

Manado!


Hello, I’m back! Setelah 16 hari melalang buana di Jakarta dan Manado, finally bisa duduk depan laptop di kamar sendiri. Gue berangkat ke Jakarta hari Kamis, 21 September. Sebenernya tujuan utama gue mau ke Manado tapi ya karena flight ke Manado super pagi, mau gak mau stay di Jakarta dulu, terus karena mau stay di Jakarta, jadi sekalian aja berangkat hari kamis biar jumatnya bisa ke kampus dulu buat legalisir ijazah. Ribet ya, yaudahlah ya. Gue di Jakarta berasa kayak kerja rodi, capeeek banget. Hari jumat gue ke kampus, terus mesti banget ke grapari telkomsel dulu karena satu dan lain hal, terus siangnya gue ke Innisfree (yang udah lama pengen banget kesana karena sekarang udah gak bisa impor skincare dari Althea *cry*). Sabtunya, gue ke kliniknya Tiara, yang gue pikir ada di depok, ternyata lokasinya ada di Sawangan yang jauhnya jauh banget, terus habis dari Sawangan gue mesti ketemu Laila ngomongin kerjaan di Bekasi, yang malah makin jauh haha. Gue berasa lintas negara saking lelahnya.Read More »