Disconcerted


Read More »

Advertisements

Standar Hidup


Ketika udah memasuki masa harus cari uang sendiri buat bertahan hidup, rasa-rasanya kita perlu belajar menentukan standar hidup dengan bijak. Gak salah kok kalau kita belajar dengan memperhatikan standar hidup orang lain. Masalahnya, di era serba media sosial kayak sekarang, standar hidup gak bisa disimpulkan langsung hanya dengan apa yang terlihat di layar kaca. Contoh, kalau di instagram, rasanya semua orang hidupnya sempurna. Punya keluarga bahagia, pasangan romantis, uang berlimpah, makan di luar terus, tiap weekend jalan-jalan, baju makeup tas branded semua. Beda lagi kalo di twitter (sekarang twitter udah rame lagi ya), orang ya kalau di twitter yang dipamerin bukan gaya hidupnya, tapi masalah hidup lol. Makanya twitter tuh rasanya penuh dengan orang-orang yang hidupnya gak baik-baik aja. Banyak kok yang kontras kayak gitu antara isi akun instagramnya dan isi akun twitternya. Kalo facebook? Hmm.. facebook apa ya isinya sekarang, kayaknya banyak yang sharing artikel-artikel gitu ya, mulai dari yang artikel informatif, atau yang menginspirasi gitu sampe yang lucu-lucu juga ada. Ya lumayan sih hiburan. Terus apa lagi? Kayaknya sosmed yang masih gue buka sekarang cuma 3 itu aja.

Gue sebenernya tertarik bahas ini gegara di twitter lagi rame seorang selebgram yang ngetweet kalo doi heran sama orang yang pake barang dari ujung kepala sampe ujung kaki berjuta-juta dan doi bilang kalo orang yang kaya aja lebih suka hambur-hambur, terus kalo orang yang kaya banget lebih seneng sedekah atau bikin charity. Terus doi bilang lagi kalo udah ngerasa ngeluarin duit 150 ribu buat makan itu biasa, tandanya ada yang salah sama diri kita.Read More »

Jalan Setapak


(My brush was not working properly on the detail)

Delapan kali lima meter, luas ruangan tempat aku menyandarkan punggung di sisi tempat tidur. Cukup luas, tak sempit seperti pikiran tentang satu hal tak berganti. Ada lampu tergantung yang begitu terang, tapi khayalan bebas terbang ke jalan setapak di tengah hutan gelap. Aku duduk di lantai beralas karpet, menghadap layar sambil berusaha fokus merangkai kalimat, meski penuh distraksi kanan kiri. Ohya, di ujung jalan setapak, ku lihat seberkas cahaya matahari terbenam. Ya sunset selalu mengagumkan, tapi gelap malam setelahnya yang tidak kusuka. Sunrise juga indah, tapi bekunya udara subuh terlalu menusuk kulit, dinginnya yang tidak kusuka. Karakter jiwa ini memang rumit, maaf.

Ah, cahaya. Selaras dengan hati yang hanya menyukai pagi hingga sore, tidak dengan malam. Malam penuh dengan rasa sepi, sialnya aku adalah manusia susah tidur. Tak heran aku bersemangat melelahkan diri seharian, demi tidak terjaga tengah malam. Tapi jika lelah, aku mengutuki diri sendiri karena kusebut penyiksaan badaniyah. Ah, sudah kubilang aku rumit, maaf.Read More »

Maaf random!


Haa…. Seneng aja rasanya kembali mempertemukan jari-jari dengan keyboard laptop, setelah kira kira hampir setahun gak punya laptop haha. Emang ya, kalo udah lama gak nulis, rasanya kayak kehilangan banyak memori kata-kata di otak, terus rasanya gaya tulisan jadi receh banget. Mau nulis satu kalimat panjang aja mikirnya lamaaaa banget.

Tapi hidup gue juga gak ada yang menarik sih buat ditulis hahaha. Kalo kebanyakan konflik hidup juga jadinya nulisnya sedih sedih doang kan gak asik. Otak juga miskin ide gegara gak pernah baca buku.

Bye, habis ini gue akan nulis yang agak seriusan dikit dan agak mikir milih-milih katanya ya. Kalo gak kelar malem ini, berarti besok selesainya. Daahh..