Replay (15 Ags) 2016


20160815_150931

Membuka mata di pagi hari tanpa sedikit pun rasa semangat adalah aku sebulan terakhir. Satu tahun mendatang, aku ingin sekali mengolok-olok diriku yang sekarang sedang menulis tentang betapa menderitanya tidak punya semangat hidup. Saat menulis ini, aku sedang belajar prostodonsia (bidang ilmu yang memberiku penderitaan setiap detik), aku juga sedang membaca Haruki Murakami, aku sedang menonton reply1994 dan aku sedang merenungi betapa Tuhan memberiku ujian yang sangat berat kali ini. Aku pernah mengatakan kalau aku tidak pernah bisa melakukan pekerjaan multitasking. Semua itu aku lakukan setiap lima belas menit sekali, secara bergantian.

Salah satu #10promptsof2016 yang harus kutulis adalah tentang sesuatu yang terjadi dalam fiksi yang aku harapkan terjadi padaku di dunia nyata. Jawabannya? Tidak ada. Aku sedang membaca trilogi Haruki Murakami yang berjudul 1Q84. Belum sampai setengah kubaca, aku sudah muntah-muntah. Dunia ini terlalu kejam. Orang-orang terlalu jahat, sementara kita terlalu lemah. Aku tidak ingin menjadi seperti Aomame, tidak pula seperti Tengo. Apalagi seperti Naoko dalam buku Norwegian Wood. Mereka terlalu menderita, terlalu kesepian dan penuh dosa. Sama halnya dengan serial reply1994, aku berhenti di episode 12 karena terlalu tidak tega melihat Chilbong yang terlalu pantas untuk dikasihani. Kalian bisa jadi akan berkata, Hey, payah, itu kan cuma fiksi. Itu dia, fiksi aja seperti itu, apalagi di dunia nyata. Apa yang aku amati selama ini memang dunia nyata jauh lebih mengerikan dari apa yang dituangkan oleh penulis manapun. Continue reading

Belajar tentang belajar


wp-1470229822281.jpeg

Entah karena pengaruh umur, atau karena sudah terlalu muak 20 tahun belajar non-stop, atau memang ilmu dunia yang makin susah, intinya, belajar tak lagi semenyenangkan dulu. Otak rasanya tumpul, daya ingat makin lemah, daya tangkap makin berkurang. Haduh! Kalau dulu aku bisa membaca buku sampai beberapa BAB sekali duduk, sekarang susah sekali rasanya mencapai halaman terakhir tiap BAB. Tak hanya itu, butuh waktu beberapa kali membaca ulang textbook untuk bisa paham betul dengan materi yang dipelajari. Kondisi ini sebenarnya sudah mulai mengkhawatirkan, sampai akhirnya aku bercerita pada Mama dan cuma dijawab, “Nanti mama beliin minyak ikan ya”

But thanks to Pinterest, akhirnya aku coba mencari tahu bagaimana caranya supaya bisa belajar dengan baik.

I need a wide range of studying tool

Aku adalah tipe orang yang suka menghabiskan uang untuk stationery. Tak masalah, selama itu bisa membuat momen belajar menjadi menyenangkan. At least, dalam belajar, kita butuh buku tulis. Trust me, menulis di buku yang sebenernya lebih meningkatkan daya ingat daripada menulis di buku imajiner pada tablet. Buku tulis yang dipilih harus menarik atau sekalian buat custom notebook sesuai style masing-masing. Aku juga suka menggunakan kertas binder polos. Aku tidak terlalu suka menggunakan kertas yang bergaris, karena kertas polos menurutku lebih bisa membuat otak kita lebih kreatif dalam membuat catatan daripada yang bergaris. Selain itu, gunakan pulpen dengan berbagai macam warna. Beli highlighter setidaknya 3 warna yang berbeda.

Continue reading

Replay (Juli) 2016


wp-1470229817419.jpeg

Bagian 1

Kutulis di atas awan Selat Sunda, menuju ibukota

Ada banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan sebagai seorang hamba Tuhan. Seperti sekarang misalnya, pesawat yang aku tumpangi sudah 30 menit menunggu untuk mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta. Aku tidak tahu pasti apakah selama 30 menit itu, pesawat ini hanya diam di atas langit atau justru bergerak tanpa arah. Aku takut memandang keluar jendela yang begitu penuh dengan awan, membuat jalan pesawat menjadi tidak mulus lagi. Sebenarnya aku tidak berpikir macam-macam, tapi tangisan bayi di belakang kursi ku membuat rasa cemas jadi hinggap di diri. Untunglah, lima belas menit kemudian pesawat ini berhasil mendarat. Perjalanan Palembang-Jakarta yang biasanya hanya ditempuh dalam waktu 1 jam, kini berubah menjadi hampir 2 jam.

Selasa, 12 Juli 2016

Bagian 2

Kutulis di atas tempat tidur, dengan suhu tubuh masih 38,5° C

Ada banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan sebagai seorang hamba Tuhan. Seperti sekarang misalnya, baru lima hari di Jakarta aku sudah jatuh sakit. Aku lebih ingin menyalahkan polusi bakteri dan virus di Jakarta yang tumpah ruah dibanding harus mengutuki sistem imun tubuhku. Walaupun pada kenyataannya, pertahanan tubuh ku memang payah. Jadilah, seharian hanya berbaring di atas tempat tidur membuatku berpikir terlalu runyam. Seperti ini misalnya,

“Mengapa menjadi dewasa itu menakutkan?”

Continue reading

(Replay 2010)


Ku tulis di hari Sabtu, 25 Juni 2016, pukul 17.00 WIB

Agustus 2010, aku, bersorak riang karena tak lagi memakai seragam SMA. Saat ku injakkan kaki di tanah Jawa enam tahun lalu, tak ada bedanya dengan rasa berada di atas tanah Sumatera. Jakarta sama panasnya dengan Palembang, bedanya udara Palembang masih jauh lebih bersih. Pun Depok, kota yang ramai namun tenang, membuatku tak merasa takut sama sekali berada di tempat asing. Saat itu aku ingat diantar oleh keluargaku menuju kosan di daerah Pondok Cina, Depok. Terlihat jelas rona kekhawatiran orang tuaku meninggalkanku sendirian. Terang saja, sedetik setelah keluargaku pulang, rasa sedih itu memuncak. Maklum, anaknya gampang kesepian, masih 17 tahun soalnya.

Sebenarnya OSPEK di UI itu “baik-baik saja”. Normal, sebagaimana harusnya OSPEK dilakukan. Aku menyenangi kegiatan yang memang banyak manfaatnya terutama untuk bekal sebagai mahasiswa baru. Beda cerita di OSPEK Fakultas. Dua hari sebelum hari H, kita diminta untuk berkumpul di samping balairung UI. Briefing, katanya. Disitulah mulai terasa kultur budaya ospek kampus versi Indonesia. Suasananya sunyi, cukup dibuat menegangkan, tak menyenangkan sama sekali. Aku tidak ingat detail yang terjadi saat itu seperti apa karena terjadi terlalu cepat. Yang ku ingat kita dikasih tugas yang begitu banyak dan harus selesai dalam waktu 2 hari. Esensinya, kita harus mampu bekerja dalam kondisi ‘mepet’ sekalipun, bahkan tugas sebanyak itu sampai membuatku tidak tidur sama sekali di hari pertama OSPEK fakultas. Padahal kenyataannya, 6 tahun aku kuliah tidak pernah tidak tidur karena belajar atau mengerjakan tugas hehe.

Continue reading

[ K A N G E N ]


image

[ K A N G E N ]

Sabtu, 18 Juni 2016

“Mbak deta, kapan pulang?”
“Mbak, tanggal berapa pulang?”
“Kapan jadinya pulang mbak?”

Rasanya aku lebih sayang sama ini bocah daripada sama diri sendiri. Gak nyangka tahun ini adek umurnya 13 tahun. Aku sama adek beda 10 tahun, aku lahir tahun 1993, adek lahir tahun 2003. Tanggal lahir kita sama yaitu 29. Bedanya aku lahir bulan april (sama kayak mama), adek lahir bulan agustus (sama kayak papa). Enam bulan lalu waktu aku pulang ke rumah, tingginya udah lebih dari aku hmm… kita lihat nanti sekarang dia tingginya udah kayak apa ya.

(Sebenernya pengen nulis panjang-panjang tentang adek, tapi aku udah terlalu ngantuk apalagi besok pagi mesti bangun sahur)

See you next week, dek! 👫

Separuh April


PhotoGrid_1434792952003

Jumat, 1 April 2016

Hari hanya berlalu tanpa aku sadar bahwa hari ini sudah memasuki bulan April. Aku lupa mengucapkan selamat tinggal pada bulan Maret.

Sabtu, 2 April 2016

Aku tidak tahu aku bisa sebahagia itu saat aku mengajak tiga bocah jalan-jalan ke kawasan Kota Tua. Satu orang berumur 11 tahun, satu orang berumur 10 tahun dan satu lagi berumur 8 tahun. Tiga bocah yang bisa aku bilang ‘penyelamat’ karena mereka datang di detik-detik saat aku sedang benar-benar kesulitan. Mereka seakan jadi pengingat bahwa aku harus selalu bersyukur tentang hidup yang kujalani. Aku sebahagia itu melihat mereka begitu senang jalan-jalan ke museum Bank Indonesia dan museum Fatahillah. Itu adalah kali pertama mereka ke kawasan Kota Tua, padahal dari lahir mereka tinggal di Jakarta.

Minggu, 3 April 2016

“Ma, aku barusan ngerapihin lemari terus nemu hasil tes minat bakat waktu SMA dulu. Baru ngeh ternyata bidang studi yang disarankan pertama buat aku itu kedokteran gigi.”
“Pas dong berarti”
Ya, pas! Waktu beres-beres dan nemu beberapa hasil tes psikologi waktu SMA dulu, aku cukup tertegun. Gak nyangka hasil tes psikologi bisa seakurat itu hehe. Aku juga baru menyadari kalau aku cenderung extrovert baru sekitar 1-2 tahun terakhir, padahal di hasil tes itu sudah tertera bahwa aku adalah tipe orang yang agak extrovert.

Continue reading