Angie Thomas : The Hate U Give


Waktu saya beli buku ini, saya pikir ini cerita anak remaja biasa tapi ternyata saya salah.

Starr Carter –nama yang bagus- gadis kulit hitam berusia enam belas tahun, hidup di antara dua dunia berbeda. Kenapa berbeda? karena lingkungan tempat dia tinggal dan lingkungan sekolahnya sangat bertolak belakang. Starr tinggal di lingkungan Garden Height yang bisa dibilang “tidak beres” sedangkan dia bersekolah di SMA bergengsi di pinggiran kota. Starr berusaha menjaga keseimbangan keduanya dengan menjelma menjadi peran yang berbeda di masing-masing tempat, sampai akhirnya hidupnya mulai berantakan sejak dia jadi saksi temannya, Khalil, tewas ditembak oleh seorang polisi.Read More »

Advertisements

Tahun penuh warna, 2018!


Nggak salah kan kalau mereview tahun 2018 yang sudah lewat lebih dari dua bulan? Hehe. Sebenarnya saya sudah beberapa kali mampir ke blog ini untuk nulis, tapi memang kalau sudah lama nggak nulis itu rasanya susah sekali untuk memulai. Akhirnya hari ini saya coba untuk menulis lagi, dengan rule : nggak boleh berhenti di tengah jalan. Saya berpikir keras apa yang harus saya lakukan agar saya bisa menulis lagi dengan mudah. Saya baru menyadari tadi, kalau ternyata writer’s block yang saya alami hampir setahun ini sebenarnya karena saya terlalu terpaku pada style menulis yang saya punya dulu. Akhirnya saya mencoba untuk keluar dari style saya yang dulu, dan mencoba menulis apa adanya saya sekarang.

Hari ini saya mau cerita tentang hidup saya selama setahun terakhir. Sebelum lulus kuliah, saya bingung sekali mau jadi apa nanti setelah lulus. Pas lulus, saya tambah bingung dan makin stress karena nggak tau mau merintis karis di jalan yang mana. Saya tahu saya sudah pasti jadi dokter gigi, saya cuma nggak tahu harus jadi dokter gigi yang seperti apa. Akar masalahnya bukan karena saya nggak punya passion, justru ini karena saya terlalu banyak mau dan pengen coba banyak hal. Kenapa nggak fokus aja mengembangkan karir jadi dokter gigi? Well, itu dia, sometimes I hate myself for not being loyal as a dentist. Tapi ya nggak salah kan hehe.Read More »

Mira W – Kereta Api Terakhir dari Paris


Desember tahun lalu, aku memutuskan untuk coba membaca karya salah satu penulis Indonesia yang cukup terkenal, yaitu Mira W. Saat aku googling nama beliau, aku kaget ternyata beliau sudah berumur 66 tahun dan sudah aktif menulis sejak tahun 70-an. Novel ini sebetulnya ringan, cuma butuh waktu beberapa hari untuk tuntas membacanya, sayangnya aku baru bisa menyelesaikannya beberapa bulan yang lalu.

Mira W mengawali kisah dengan cerita asmara anak SMA, Aster dan Andika. Keduanya digambarkan sempurna, Aster yang cantik dan baik hati, begitu pun Andika yang tampan, atletis, suka menolong. Keduanya pun populer. Di sisi lain, ada Arif, murid cupu, gak ganteng dan suka di-bully. Singkat cerita, karena Andika suka nolongin Arif kalo lagi dibully, mereka bertiga akhirnya sahabatan sampai kuliah. Aster dan Arif kuliah di kedokteran, Andika kuliah di Belanda. Waktu Andika mau berangkat ke Belanda, Aster ngotot mau nganterin Andika, jadilah mereka jalan-jalan berdua doang di Eropa, terus mampir ke Paris (makanya judulnya kereta api terakhir dari Paris, bukan Belanda). Eh, Belanda bukan ya haha, maaf tiba-tiba lupa, bukunya ada di rumah jadi ga bisa cek hehe. Terus, mungkin karena bawaan Paris yang romantis dan cuma berdua doang, akhirnya mereka ya gitu deh, terus tau-tau pas pulang Aster hamil. Nah, pas Andika tau kalau Aster hamil, mereka memutuskan untuk menikah. Tapi tapi, sebelum nikah, Andika, Arif dan beberapa temen cowonya party-party dulu di Puncak, merayakan Andika yang bentar lagi melepas masa lajangnya. Disitulah tragedi terjadi, pas mereka bangun, ada banyak darah dimana-mana dan salah satu temen mereka meninggal. Arif bilang Andika dan temennya itu mabuk sampe berantem dan akhirnya Andika membunuh temennya itu.

Read More »

Bandung-ku sayang💜


Bandung memang menyenangkan.

Dalem hati “Ya Allah akhirnya w liburan juga” hehe 🤣 Walopun deket cuma di bandung, tapi cuma bandung yang paling memungkinkan. Kali ini liburan berlima sama temen-temen kuliah, yeaayy akhirnyaaaaa kita ngumpul lagi!

Destinasi liburan kali ini ke ciwidey, sebenernya tujuan utama kita mau cobain glamping legok kondang, sayang aku lupa fotoin tempatnya karena terlalu nikmatin suasana hehe. Tempatnya bagus banget, tapi pas mau kesananya dari bawah ke atas, naik jalan tebing tinggi banget, rada serem sih. Tapi ya worth it lah dengan suasana disana. Terus pas malem dingin banget, aku jadi gak bisa tidur, padahal kan tujuan kesananya mau relaks, istirahat huhu. Tapi gapapaaaaa, terobati dengan suasananya yang enak banget, terus malem malam sebelum tidur dibikinin camping fire sama mas-masnya, sambil curhat-curhatan. Seru pokoknya..

Eh eh, sebelum ke legok kondangnya kita mampir dulu ke kawah putih dan ranca upas, lumayan deket kok dari legok kondangnya. Ini kawah putih cakep banget, walaupun perjuangan karena mesti pake masker padahal mau foto-foto haha. Abis dari kawah putih, kita ke ranca upas tempat penangkaran rusa-rusa, tapi rusanya sedikit, banyakan pengunjungnya 😂

Kawah Putih – Ciwidey

Read More »

Rainbow Rowell : Eleanor & Park


Hmm.. Eleanor & Park adalah kisah tentang anak SMA, tapi rasanya kurang pas jadi bacaan anak SMA. Buku ini bukan untuk jadi inspirasi anak remaja dalam menjalani hari bersama cinta pertamanya, tapi lebih ke mengingatkan kita, yang sudah dewasa, bagaimana manisnya cerita cinta saat di sekolah dulu (walaupun sebenernya cerita cinta yang dipunya waktu remaja gak ada mirip-miripnya sama Eleanor & Park tapi yaudahlah ya).

Eleanor, gadis putih berambut merah, tidak kurus dan punya gaya berpakaian yang (kasarnya) ‘minta dikatain’. Tapi anehnya yang dibayanganku justru Eleanor punya penampilan yang biasa aja. Entahlah, rasanya tidak ada yang salah dengan gadis putih campuran Denmark-Skotlandia, berambut merah keriting, memakai kemeja kotak-kotak kebesaran dengan syal-syal di pergelangan tangan. Iya kan?

Lalu, Park, lelaki campuran Amerika-Asia, yang tidak bisa kubayangkan sama sekali bagaimana rupanya. Aku akan jatuh cinta dengan Park kalau saja aku masih berusia 16 tahun. Lelaki ini….. 100% book-boyfriend-material. Park suka baca buku, komik sih lebih tepatnya. Dia suka mendengarkan musik-musik berkualitas. Park adalah laki-laki yang akan meminjamkanmu buku-bukunya hanya untuk bisa ngobrol denganmu di kemudian hari. Atau dia akan merekam lagu-lagu favoritnya ke dalam kaset dan meminjamkannya padamu untuk kamu dengar sebagai pengantar tidur. Park seperti itu, yang jelas akan melelehkan anak remaja manapun. Tapi Park, hanya anak lelaki biasa, bukan anak lelaki populer kaya mengagumkan (dan juga membosankan) yang biasa ada di buku atau drama remaja pada umumnya. Itulah kenapa Park menarik.Read More »