Tere liye : Kau, aku, dan sepucuk angpau merah


Ada tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka pernah jatuh cinta, setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita cinta. Akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta sehari-semalam, seseorang entah di belahan dunia mana, berbinar, harap-harap cemas, gemetar, malu-malu menyatakan perasaannya.

Apakah Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah ini sama spesialnya dengan miliaran cerita cinta lain?

Cukup seuntai kalimat di atas yang akan kau temui dalam novel yang terbit pada bulan Januari 2012 ini. Tak ada sinopsis, tak pula Tere-liye mau membocorkan sedikit saja jalan ceritanya. Ah, inilah yang akan selalu kau rasakan saat mengitari rangkaian kata dalam setiap lembaran novel Tere-liye : PENASARAN. Khusus untuk kasusku, siklus seperti ini yang akan terjadi, saat aku mulai penasaran, aku tak akan berhenti membaca, di tengah, aku akan dengan soknya mendeklarasikan tebakan jalan cerita selanjutnya, di akhir aku akan tersenyum karena Tere-liye selalu mampu menikung jalan pikiranku. Seperti biasa, bukan Tere-liye namanya kalau tidak berhasil membuat ‘pencinta fiksi’ sepertiku ini mengangguk heran dan kagum.

Adalah Borno, sang pemuda sahabat Sungai Kapuas dari Pontianak, Kalimantan. Tidak, aku tidak salah menulis nama ‘Borno’ yang memang berasal dari kata ‘Borneo’ ini. Hanya saja karena alasan lebih enak diucapkan, jadilah ia dipanggil Borno. Seusai mengenyam pendidikan SMA, berbagai pekerjaan sudah ia lakoni sampai akhirnya takdir mengantarkannya untuk mengikuti jejak sang ayah, menjadi pengemudi sepit. Sepit? Sepit yang berasal dari kata ‘speed’ adalah perahu kayu, panjang lima meter, lebar satu meter, dengan tempat duduk melintang dan bermesin tempel. Sepit inilah yang selalu menemani warga sekitar Sungai Kapuas untuk menyeberang. Kehidupan Borno tidaklah semulus dan sehalus kain sutera. Di umur yang ke-dua belas, ia harus rela kehilangan sang ayah yang terjatuh dari perahu saat melaut dan kehilangan nyawa karena sengatan racun ubur-ubur. Belum usai kesedihan Borno, ia juga harus menyaksikan kepedihan saat jantung ayahnya didonorkan untuk orang lain.

Tak usah berlarut-larut, yang pasti kalian tunggu adalah kisah cintanya bukan? Iya ! Borno, sepit, sebuah angpau merah, dan tentunya sang gadis manis bernama Mei adalah segumpal awal kisah cinta yang tidak biasa ini. Awal kisah, Borno menemukan sebuah amplop merah tergeletak di sepitnya. Pastilah punya penumpang yang tertinggal, pikir Borno waktu itu. Benar saja, amplop merah itulah yang akhirnya menuntun perjalanan cinta kedua belah insan ini. Waktu berjalan, bertahun-tahun terlihat rumit tapi selalu ada progress walau berjalan lambat. Terjadilah rutinitas di awal dimana Borno selalu mengantri sepit di urutan tiga belas untuk dapat mengantar Mei menyeberang untuk pergi mengajar. Cerita tak usai hanya terpatri dalam relung kota Pontianak, tak disangka bahkan berlanjut sampai ke Pulau Jawa, di kota Surabaya. Wajar, mengingat Mei yang memang berdomisili di Surabaya setelah pindah dari kota Pontianak di umur dua belas tahun.

Bertahun-tahun mengukir cerita tapi Borno bahkan belum pernah mengungkapkan rasanya pada Mei? Ah, Borno, padahal kau tahu wanita tak suka menunggu ketidakpastian.

Tapi ada yang tidak pasti lagi. Pertemuan Borno dan Mei harus dihambat oleh Ayah Mei yang melarang mereka untuk bertemu. Bukan, bukan karena Borno adalah orang miskin dan Mei orang kaya, tak ada sangkut-pautnya dengan harta, martabat, dan jabatan, begitulah kata Ayah Mei. Lalu apa?

Borno masih bisa bertahan dengan gertakan dari Ayah Mei, tapi bisa jadi semua energi Borno langsung terkuras habis saat yang memintanya untuk berhenti menemui Mei justru terucap dari sang gadis pujaan hati. Kenapa? tanya Borno. Mei tak pernah mau menjawab.

Satu bulan berlalu, Mei tak pernah mau ditemui. Dua bulan berlalu, tak ada kemajuan berarti. Tiga bulan, empat bulan bahkan saat menginjak angka satu tahun, Borno tak pernah tahu alasannya. Ada apa sebenarnya? Ah, wanita memang rumit, bukan begitu wahai Borno, bujang dengan hati paling lurus sepanjang tepian Kapuas?

Lalu, ada misteri apa di balik amplop merah yang ditemukan Borno saat pertemuan pertamanya dengan Mei? Masihkah Borno menyimpannya setelah bertahun-tahun tak pernah disentuh?

Cerita dalam novel ini terkemas dengan baik ditemani oleh kisah-kisah unik dari Ibu Borno, Pak Tua, Bang Togar, Cik Taulani, Koh Acong, Andi, Daeng, dan yang menarik adalah hadirnya seorang gadis cantik sang dokter gigi, Sarah. Yang khas dari novel terbitan Gramedia Pustaka Utama ini adalah petuah-petuah cinta dari Pak Tua yang sangat cocok dicekoki untuk para kaula muda yang sedang gila-gilanya dimabuk cinta. Penasaran? Bolehlah aku share beberapa yang menarik ya.

Dikutip dari halaman 168, “CInta sejati adalah perjalanan. Cinta sejati tidak pernah memiliki ujung, tujuan, apalagi hanya sekedar muara. Air di laut akan menguap, menjadi hujan, turun di gunung-gunung tinggi, kembali menjadi ribuan anak sungai, menjadi ribuan sungai perasaan, lantas menyatu menjadi Kapuas. Itu siklus tak pernah berhenti, begitu pula cinta. Cinta adalah perbuatan. Kau selalu bisa memberi tanpa sedikit pun rasa cinta. Tetapi kau tidak akan pernah bisa mencintai tanpa selalu memberi

Dikutip dari halaman 429, “Cinta hanyalah segumpal perasaan dalam hati. Sama halnya dengan gumpal perasaan senang, gembira, sedih, sama dengan kau suka makan gulai kepala ikan, suka mesin. Bedanya, kita selama ini terbiasa mengistimewakan gumpal perasaan yang disebut cinta. Kita beri dia porsi lebih penting, kita besarkan, terus menggumpal membesar. Coba saja kau cueki, kau lupakan, maka gumpal cinta itu juga dengan cepat layu seperti kau bosan makan gulai kepala ikan”

Latar yang digambarkan oleh Tere-liye sangat menarik. Kali ini, Beliau mengangkat Sungai Kapuas dan kota Pontianak yang memang jarang terdengar. Begitu apik bahkan saat Beliau berhasil cantik membungkus unsur persahabatan antara Indonesia dan Malaysia melalui sepenggal kisah singkat di dalamnya. Alurnya pun mengalir indah seindah aliran Sungai Kapuas. Bahasa yang disampaikan mudah dicerna dan sarat akan sentuhan-sentuhan sastra, walaupun ada beberapa kata yang sangat sering diulang dan cenderung membuat bosan yang membaca. Penokohannya unik ! Sangat konsisten dari awal sampai akhir, ya wajar memang untuk Penulis sekelas Tere-liye tak susah untuk benar-benar memisahkan diri antara jiwa sang tokoh dan jiwa pribadi yang kadang suka menyelinap untuk melebur bersama. Hanya saja, akhir cerita atau ‘ending’ nya kurang dipermak secantik mungkin. Agak sayang saat cerita yang berhasil dibawakan secara spektakuler di awal dan di tengah tapi tidak memiliki ‘ending’ yang spektakuler juga. Bukan ide ceritanya yang saya maksud, tapi pengemasannya. Pembaca sudah dibawa kagum dengan kejutan-kejutan di akhir cerita, tapi akan lebih menyenangkan lagi kalau pembaca pun diberi ruang yang lebih luas untuk lebih merasakan akhir kisah yang ditunggu-tunggu.

Terlepas dari itu semua, novel ini wajib menjadi salah satu koleksi buku Anda. Dibeli ya ! Selamat membaca :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s